Ruangsujud.com– Pendidikan Agama Islam (PAI) menghadapi serangkaian tantangan signifikan di era digital, utamanya dalam menjaga keaslian ajaran di tengah derasnya arus informasi. Kesenjangan literasi digital, ancaman radikalisme daring, serta potensi siswa terdistraksi oleh media sosial menjadi isu krusial yang memerlukan perhatian serius dari semua pihak terkait.
Untuk mengatasi persoalan ini, transformasi metode pengajaran PAI menjadi sangat mendesak, seiring dengan penguatan literasi digital yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Upaya ini bertujuan agar materi PAI tetap relevan dan menarik bagi generasi muda, sekaligus membentengi mereka dari dampak negatif kemajuan teknologi informasi.
Salah satu tantangan utama adalah rentannya penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan konten ekstremisme yang seringkali mengatasnamakan Islam, mengancam validitas dan aksesibilitas konten PAI yang benar. Selain itu, kesenjangan infrastruktur digital di daerah terpencil dan rendahnya literasi digital keagamaan di kalangan guru serta siswa juga menjadi hambatan berarti dalam proses belajar mengajar.
Era digital juga membawa pergeseran karakter dan tingkat distraksi yang tinggi di kalangan peserta didik. Fenomena “Brain Rot,” yaitu penurunan kemampuan kognitif akibat paparan konten dangkal secara berlebihan, serta tingginya gangguan dari media sosial, secara signifikan mengurangi fokus belajar agama siswa.
Kurikulum PAI saat ini seringkali dinilai belum sesuai dengan perkembangan teknologi, sehingga perlu adaptasi agar pembelajaran menjadi lebih interaktif dan menyenangkan. Peningkatan kompetensi guru PAI dalam mengintegrasikan teknologi menjadi krusial. Masalah etika siber, seperti perundungan siber (cyberbullying), sexting, dan pelanggaran hak cipta/plagiarisme, juga semakin marak dan memerlukan pendekatan pendidikan karakter Islami yang kuat.
Dalam menghadapi kompleksitas ini, pendidik PAI dituntut untuk bertransformasi menjadi fasilitator kreatif. Mereka harus mampu mengintegrasikan teknologi secara efektif untuk menyebarkan nilai-nilai Islam yang wasathiyah (moderat) dengan cara yang menarik dan mudah diterima, guna membentuk generasi yang berkarakter Islami dan cakap digital.
