Retorika Agama di Konflik Global

Ruangsujud.com– Retorika agama semakin digunakan untuk membingkai kepentingan strategis sebagai masalah moral atau sakral dalam konflik geopolitik global, seperti yang terlihat dalam ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Pernyataan dari tokoh politik dan rohaniwan AS baru-baru ini menyatukan keyakinan keagamaan dengan narasi konflik militer dan politik.

Pola retorika semacam ini dinilai bukan hal baru, melainkan memiliki akar historis dalam narasi Kristen abad pertengahan mengenai Islam. Penelitian menunjukkan bahwa penggambaran Islam di masa lalu, yang seringkali bersifat negatif dan ekstremis, masih dapat dikenali dalam diskursus kontemporer yang disampaikan oleh banyak politisi dan tokoh agama di Amerika.

Dalam konteks serangan AS terhadap Iran pada 4 Maret 2026, Ketua DPR AS Mike Johnson menggambarkan tradisi keagamaan mayoritas di Iran, Syiah Islam, sebagai “misguided religion” (agama yang salah arah), saat membahas serangan AS yang sedang berlangsung.

Pada bulan yang sama, sebuah pengaduan kepada Military Religious Freedom Foundation melaporkan bahwa seorang komandan militer tak dikenal menyatakan, “Presiden Trump telah diurapi oleh Yesus untuk menyalakan api sinyal di Iran guna menyebabkan Armagedon dan menandai kembalinya dia ke Bumi.”

Tak lama setelah serangan AS di Iran, pendeta sayap kanan Andrew Sedra berkomentar, “Trump is going after the head of the snake, which is Islam.” Ia menambahkan, “God is using President Trump in a prophetic moment of time to execute judgment on evil and wicked civilizations.”

Retorika keagamaan modern ini sebagian mengambil rujukan dari narasi-narasi lama tentang Islam dalam pemikiran Kristen, di mana Islam sering digambarkan sebagai kepercayaan yang kejam dan ekstremis. Sejak abad ke-8, biarawan Yohanes dari Damaskus telah menggambarkan Islam sebagai “heresy” (ajaran sesat). Sejarawan John Tolan dalam bukunya “Saracens: Islam in the Medieval European Imagination” (2002) menulis bahwa penulis Kristen abad pertengahan menyebarkan “crude insults to the Prophet, gross caricatures of Muslim ritual [and] deliberate deformation of passages of the Koran.” Tolan menambahkan, mereka menggambarkan umat Muslim sebagai “libidinous, gluttonous semi-human barbarians.”

Show Comments (0) Hide Comments (0)
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted