Connect with us

Hi, what are you looking for?

Hikmah

Keutamaan Meninggalkan Hal yang Tidak Bermanfaat dalam Ajaran Islam

Ajaran Islam memberikan penekanan yang kuat pada pengembangan diri yang bermanfaat dan produktif. Salah satu prinsip utamanya adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat. Artikel ini akan menggali keutamaan dan pentingnya meninggalkan hal yang tidak bermanfaat dalam konteks ajaran Islam.

  1. Definisi Hal yang Tidak Bermanfaat:

Hal yang tidak bermanfaat dapat merujuk pada segala sesuatu yang tidak memberikan manfaat positif, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam konteks Islam, hal ini mencakup aktivitas, perilaku, atau konsumsi yang tidak mendukung perkembangan pribadi, spiritual, atau sosial.

  1. Perspektif Al-Qur’an:

Al-Qur’an menegaskan pentingnya menggunakan waktu dan sumber daya dengan bijak. Dalam Surat Al-Baqarah (2:197), Allah berfirman:

“Dan pergunakanlah sebahagian dari harta yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu, lalu ia berkata: ‘Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, maka aku bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh.’”

Meninggalkan hal yang tidak bermanfaat merupakan bentuk kebijaksanaan dalam pengelolaan waktu dan sumber daya.

  1. Pandangan Hadis Nabi Muhammad SAW:

Rasulullah SAW memberikan petunjuk yang jelas mengenai meninggalkan hal yang tidak bermanfaat. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:

“Seseorang itu akan ditanya pada Hari Kiamat tentang hidupnya, untuk apa dia habiskan hidupnya. Jika dia menjawab bahwa hidupnya dia habiskan untuk mencari ilmu, menggunakan tubuhnya, atau untuk kebaikan lainnya, maka itu akan menjadi tanda keberuntungan baginya.”

Hadis ini menggarisbawahi pentingnya mengisi hidup dengan aktivitas yang bermanfaat dan produktif.

  1. Keutamaan Meninggalkan Perkara yang Tidak Bermanfaat:

a. Pengembangan Diri: Meninggalkan hal yang tidak bermanfaat membantu individu untuk fokus pada pengembangan diri. Ini dapat mencakup pembelajaran, pengembangan keterampilan, dan aktivitas yang mendukung pertumbuhan positif.

b. Kesejahteraan Spiritual: Meninggalkan hal yang tidak bermanfaat dapat memberikan kedamaian batin dan kesejahteraan spiritual. Fokus pada ibadah, dzikir, dan aktivitas yang mendekatkan diri kepada Allah adalah bagian dari meninggalkan yang tidak bermanfaat.

c. Peningkatan Produktivitas: Dengan meninggalkan aktivitas yang tidak bermanfaat, seseorang dapat meningkatkan produktivitas dalam pekerjaan dan kewajiban sehari-hari. Ini menciptakan lingkungan yang lebih efisien dan efektif.

d. Hubungan Sosial yang Positif: Meninggalkan hal yang tidak bermanfaat juga mencakup memilih lingkungan sosial yang positif dan menjauhi situasi yang mungkin merugikan. Ini dapat membentuk hubungan yang sehat dan mendukung pertumbuhan bersama.

  1. Langkah-langkah Praktis:

a. Evaluasi Prioritas: Mengidentifikasi dan mengevaluasi prioritas dalam hidup membantu dalam menentukan hal-hal yang perlu ditinggalkan.

b. Rencanakan Waktu dengan Bijak: Menciptakan jadwal harian yang terorganisir dan memprioritaskan kegiatan yang bermanfaat membantu menghindari hal-hal yang tidak produktif.

c. Refleksi Rutin: Melakukan refleksi rutin tentang aktivitas sehari-hari dapat membantu dalam menyadari dan meninggalkan kebiasaan yang tidak bermanfaat.

  1. Kesimpulan:

Meninggalkan hal yang tidak bermanfaat bukan hanya merupakan ajaran Islam, tetapi juga suatu cara untuk mencapai keselamatan dan keberkahan hidup. Dengan memahami keutamaan meninggalkan yang tidak bermanfaat, seseorang dapat membentuk pola pikir dan gaya hidup yang lebih sejalan dengan nilai-nilai Islam. Hal ini tidak hanya membawa manfaat individual, tetapi juga kontribusi positif kepada masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

Advertisement. Scroll to continue reading.
Robby Karman
Written By

Penulis, Peminat Kajian Sosial dan Keagamaan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel terkait

Kajian

KITA TAHU negara muslim atau negara dengan mayoritas penduduk muslim saat ini rata-rata tertinggal dari negara-negara dari negara Eropa atau Asia Timur. Hal ini...

Kajian

Metode tafsir maudhu’i, juga dikenal sebagai metode tematik, adalah cara mengumpulkan ayat-ayat Al-Quran yang memiliki maksud yang sama, membahas topik yang sama, dan menyusunnya...

Hikmah

Ibrahim bin Adham, seorang tokoh sufi yang terkenal dalam sejarah Islam, dikenal dengan nasihat-nasihatnya yang tajam dan mendalam. Nasihat-nasihatnya tidak hanya mengingatkan kita tentang...

Kabar

RUANGSUJUD.COM – Nama Nupur Sharma mendadak menjadi perbincangan publik. Pernyataan petinggi partai penguasa, Bharatya Janata Party (BJP) membuat kontroversi. Dalam sebuah debat di media Times Now, Sharma...