Connect with us

Hi, what are you looking for?

Hikmah

Keutamaan Diam Menurut Syaikh Nawawi Al Bantani

Dalam ajaran Islam, kesederhanaan dalam menjalankan ibadah dan berperilaku baik adalah prinsip yang sangat ditekankan. Ibadah tanpa akhlak yang baik, demikian juga sebaliknya, tidak akan menghasilkan manfaat yang sejati. Oleh karena itu, setiap Muslim diharapkan untuk menggabungkan keduanya dalam kehidupan sehari-hari. Islam bukan hanya mengajarkan hubungan vertikal dengan Allah SWT, tetapi juga hubungan horizontal dengan sesama manusia dan alam semesta.

Dilansir dari islami.co, Islam menekankan pentingnya akhlak dalam banyak aspek kehidupan. Tujuan utama diutusnya Nabi Muhammad adalah untuk memperbaiki akhlak manusia. Salah satu aspek akhlak yang diajarkan dalam Islam adalah menjaga lisan kita. Tidak selalu berbicara banyak adalah tindakan yang baik. Dalam banyak situasi, diam lebih baik daripada berbicara terlalu banyak. Keutamaan diam ini dijelaskan dengan baik oleh ulama Syekh Nawawi al-Banteni dalam karyanya yang terkenal, “Nashaihul ‘Ibad”.

Beliau mengutip beberapa hadis yang menyoroti keutamaan diam:

  1. “Diam itu ibadah yang paling tinggi.” (HR: Al-Dailami)
  2. “Diam adalah perhiasan orang alim, dan penutup bagi orang bodoh.” (HR: Abu Al-Syaikh)
  3. “Diam itu akhlak yang paling utama.” (HR: Al-Dhailami)

Dalam hadis lainnya, Rasulullah SAW bersabda:

“Shalat adalah tiang agama, namun diam lebih utama. Sedekah dapat memadamkan murka Tuhan, namun diam lebih utama. Puasa adalah perisai dari siksa neraka, namun diam lebih utama. Jihad adalah puncaknya keutamaan agama, namun diam lebih utama.”

Dalam konteks ini, “diam” mengacu pada sikap menghindari pembicaraan yang tidak bermanfaat, baik dalam kehidupan dunia maupun akhirat, dan tidak membalas kata-kata yang mencari permusuhan. Diam, menurut Syekh Nawawi, adalah bentuk ibadah yang paling tinggi karena banyak kesalahan dan dosa yang dapat timbul dari perkataan kita. Namun, penting untuk diingat bahwa diam yang hanya mengisolasi diri dari pergaulan sosial tidak dianggap sebagai ibadah.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga harus mengurangi berbicara tentang hal-hal yang tidak penting. Saat ini, tidak hanya berbicara yang harus dikurangi, tetapi juga komentar di media sosial dan berbagi informasi yang tidak bermanfaat. Ini bertujuan agar kita terhindar dari hal-hal yang tidak memiliki nilai positif dalam kehidupan kita.

Kita dapat merenungkan kata-kata seorang penyair yang disarikan oleh Syekh Nawawi dalam karyanya:

“Wahai orang yang banyak bicara, kurangilah sedikit. Sungguh, engkau telah bicara panjang lebar dan engkau telah andil dalam keburukan. Sekarang, diamlah jika engkau ingin kebaikan…”

Dengan menjalani hidup yang sederhana, menghargai keutamaan diam, dan berusaha untuk berbicara hanya tentang hal-hal yang bermanfaat, kita dapat mengembangkan akhlak yang lebih baik dan mendekatkan diri kepada Allah SWT dalam setiap aspek kehidupan kita.

Advertisement. Scroll to continue reading.
Revana Khatarina
Written By

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel terkait

Kajian

KITA TAHU negara muslim atau negara dengan mayoritas penduduk muslim saat ini rata-rata tertinggal dari negara-negara dari negara Eropa atau Asia Timur. Hal ini...

Kajian

Metode tafsir maudhu’i, juga dikenal sebagai metode tematik, adalah cara mengumpulkan ayat-ayat Al-Quran yang memiliki maksud yang sama, membahas topik yang sama, dan menyusunnya...

Kabar

RUANGSUJUD.COM – Nama Nupur Sharma mendadak menjadi perbincangan publik. Pernyataan petinggi partai penguasa, Bharatya Janata Party (BJP) membuat kontroversi. Dalam sebuah debat di media Times Now, Sharma...

Opini

RUANGSUJUD.COM – Bagi kita semua kata taqwa tentu sudah bukan menjadi suatu yang asing, kata yang berasal dari Bahasa arab ini sudah melebur dalam tradisi...