Connect with us

Hi, what are you looking for?

Hikmah

Antrian Menuju Akhirat, Siapkah Kita?

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan diri kita mengantre di berbagai tempat, seperti bank, puskesmas, atau toko. Mengantre adalah bagian alami dari kehidupan kita. Namun, ada perbedaan yang menarik antara mengantre di tempat-tempat seperti bank dan mengantre untuk sesuatu yang jauh lebih besar, yaitu menuju alam akhirat. Di antara itu, hanya Allah yang mengetahui nomor antrean kita.

Setiap antrean memiliki tujuan, dan kita diminta untuk mempersiapkan diri sebelum tiba giliran kita. Syarat-syarat dan persiapan untuk mengantre biasanya telah diumumkan dan terpampang jelas, dan yang terbaik adalah jika kita tahu dengan pasti apa yang perlu dipersiapkan. Dalam konteks kehidupan ini, pengantre yang bijak adalah seseorang yang tahu apa tujuannya dalam hidup dan apa yang harus dipersiapkan untuk mencapainya.

Tapi apa yang sebenarnya kita antre? Kita sedang mengantre menuju kematian, mengawaitu saat giliran kita untuk meninggalkan dunia ini dan pergi ke alam akhirat. Kita semua memiliki nomor antrean yang telah ditetapkan sebelum kelahiran kita, sesuai dengan rencana yang telah ditulis di Lauhul Mahfudz.

Seperti saat mengantre di tempat lain, ada banyak cara untuk menghabiskan waktu saat kita “mengantre” menuju kematian. Beberapa orang mungkin menghabiskan waktu mereka dengan sia-sia, tanpa persiapan yang memadai, meskipun mereka tahu apa yang harus dipersiapkan. Namun, ada juga yang sadar akan tujuan sejati mereka dan mempersiapkan diri dengan baik, melakukan amal yang bermanfaat dan menjalani hidup dengan bijak.

Tentu saja, “mengantre” menuju kematian adalah antrean yang penuh dengan godaan dan ujian. Di tengah waktu menunggu kita akan disibukkan dengan urusan duniawi yang menggoda. Beberapa orang mungkin tergoda dan teralihkan, sementara yang lain tetap setia pada prinsip-prinsip hidup yang benar, bersabar, dan menjalani hidup sesuai dengan ajaran-Nya.

Allah telah mengingatkan kita bahwa dunia ini penuh dengan tipu daya dan kenikmatan yang dapat membuat kita lupa bahwa kita sedang “mengantre” menuju alam akhirat. Kita mungkin melupakan tujuan sejati kita dan pentingnya persiapan yang perlu kita lakukan.

Namun, Allah, yang Maha Bijaksana, memberikan panduan melalui Rasulullah dan kitab suci-Nya (Al-Qur’an) agar kita dapat menghadapi ujian dan godaan dunia ini dengan baik. Kita harus menjalani hidup sesuai dengan prinsip-prinsip-Nya dan selalu mengingat bahwa suatu saat giliran kita akan tiba.

Rasulullah mengajarkan bahwa orang yang bijak adalah orang yang selalu mengingat kematian dan mempersiapkan diri sebelum saat itu tiba. Kita harus selalu waspada dan memastikan bahwa persiapan kita cukup baik untuk menghadapi akhir hidup kita.

Jadi, yang terpenting adalah bukan nomor antrean kita, tetapi bagaimana kita menjalani hidup kita dan apa yang telah kita persiapkan untuk menuju alam akhirat. Kita harus menjadi pengantre yang bijak, tidak menyia-nyiakan waktu sela-sela antrean kita, dan berusaha menjalani hidup dengan baik. Semoga kita semua selalu dalam rahmat dan bimbingan-Nya.

Advertisement. Scroll to continue reading.
Robby Karman
Written By

Penulis, Peminat Kajian Sosial dan Keagamaan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel terkait

Kajian

KITA TAHU negara muslim atau negara dengan mayoritas penduduk muslim saat ini rata-rata tertinggal dari negara-negara dari negara Eropa atau Asia Timur. Hal ini...

Kajian

Metode tafsir maudhu’i, juga dikenal sebagai metode tematik, adalah cara mengumpulkan ayat-ayat Al-Quran yang memiliki maksud yang sama, membahas topik yang sama, dan menyusunnya...

Kabar

RUANGSUJUD.COM – Nama Nupur Sharma mendadak menjadi perbincangan publik. Pernyataan petinggi partai penguasa, Bharatya Janata Party (BJP) membuat kontroversi. Dalam sebuah debat di media Times Now, Sharma...

Opini

RUANGSUJUD.COM – Bagi kita semua kata taqwa tentu sudah bukan menjadi suatu yang asing, kata yang berasal dari Bahasa arab ini sudah melebur dalam tradisi...