Overthinking Bukan Kurang Tawakal

Ruangsujud.com– Fenomena overthinking atau memikirkan sesuatu secara berlebihan semakin sering dialami generasi muda, terutama Gen Z yang hidup di tengah derasnya informasi, tuntutan produktivitas, dan budaya perbandingan di media sosial. Kondisi tersebut dapat muncul kapan saja, mulai dari menjelang tidur, menghadapi persoalan pekerjaan, memikirkan masa depan, hingga setelah melihat keberhasilan orang lain di ruang digital.

Tidak sedikit anak muda kemudian menganggap kebiasaan berpikir berlebihan sebagai tanda kurang bersyukur atau kurang bertawakal kepada Allah. Padahal, munculnya rasa cemas, takut, dan khawatir merupakan bagian dari respons manusia ketika menghadapi tekanan. Seseorang tidak otomatis memiliki iman yang lemah hanya karena sedang mengalami pergulatan emosional.

Overthinking yang berlangsung terus-menerus dapat mengganggu kualitas tidur serta meningkatkan risiko stres berkepanjangan, gangguan kecemasan, dan depresi. Pikiran yang terus aktif membuat seseorang sulit beristirahat karena berulang kali memikirkan kejadian masa lalu atau membayangkan kemungkinan buruk yang belum tentu terjadi.

Tekanan itu semakin terasa bagi Gen Z yang hampir setiap hari bersentuhan dengan media sosial. Tuntutan untuk produktif, fenomena fear of missing out atau FOMO, serta kebiasaan membandingkan kehidupan dengan orang lain dapat membuat generasi muda lebih rentan mengalami stres dan kecemasan. Karena itu, literasi kesehatan mental menjadi penting agar anak muda mampu mengenali emosinya tanpa terburu-buru melakukan diagnosis terhadap diri sendiri.

Data Kementerian Kesehatan juga menunjukkan bahwa persoalan tersebut tidak dapat dipandang sebelah mata. Berdasarkan Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey 2022, sekitar satu dari tiga remaja Indonesia pernah mengalami masalah kesehatan mental dalam satu tahun terakhir. Pada 2026, Kementerian Kesehatan menyatakan gejala depresi dan kecemasan pada remaja bahkan dapat hampir lima kali lebih tinggi dibandingkan kelompok usia dewasa.

Dalam ajaran Islam, tawakal bukan berarti seseorang berhenti berpikir, mengabaikan masalah, atau menolak bantuan. Tawakal dilakukan setelah manusia berikhtiar sesuai kemampuan, kemudian menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah. Himpunan Putusan Tarjih menjelaskan bahwa ketentuan berasal dari Allah, sedangkan usaha merupakan bagian yang harus dijalankan manusia.

Karena itu, cara menghadapi overthinking tidak cukup hanya dengan mengatakan, “Sudahlah, tawakal saja.” Anak muda perlu diberi ruang untuk bercerita tanpa dihakimi. Mereka dapat memulai dengan mengenali penyebab kecemasan, membatasi paparan media sosial, menulis hal-hal yang sedang dipikirkan, menjaga waktu tidur, berolahraga, serta berbicara kepada orang yang dipercaya.

Ibadah juga dapat menjadi sumber ketenangan. Shalat, berdoa, membaca Al-Qur’an, berzikir, dan mengikuti lingkungan pertemanan yang sehat dapat membantu seseorang menata kembali pikiran. Namun, ibadah tidak seharusnya digunakan untuk menyalahkan orang yang sedang mengalami masalah psikologis. Dukungan spiritual dan bantuan profesional dapat berjalan bersama, bukan saling menggantikan.

Apabila rasa cemas berlangsung lama, mengganggu tidur, menurunkan semangat belajar atau bekerja, membuat seseorang menarik diri, maupun memunculkan keinginan menyakiti diri, langkah yang tepat adalah berkonsultasi dengan psikolog, psikiater, atau fasilitas kesehatan. Kementerian Kesehatan juga menyediakan fasilitas skrining kesehatan jiwa secara mandiri melalui aplikasi SATUSEHAT Mobile sebagai salah satu langkah deteksi dini.

Pada akhirnya, overthinking bukan selalu pertanda seseorang kurang tawakal. Dalam Islam, mengakui bahwa diri sedang tidak baik-baik saja bukanlah kelemahan. Berdoa adalah bentuk penghambaan, berikhtiar adalah bentuk tanggung jawab, sedangkan mencari bantuan merupakan salah satu cara menjaga jiwa yang telah Allah amanahkan.

Show Comments (0) Hide Comments (0)
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted