Tata Cara Sujud Sempurna Menurut Rasulullah SAW

Monitorday.com – Pelaksanaan sujud, salah satu rukun penting dalam shalat, kerap dilakukan dengan beragam cara oleh umat Muslim. Namun, panduan mengenai tata cara sujud yang benar dan sempurna telah dicontohkan secara jelas oleh Rasulullah SAW, sebagaimana terekam dalam berbagai hadits. Kesempurnaan sujud tidak hanya berdampak pada kualitas ibadah, tetapi juga menjadi syarat sahnya shalat itu sendiri.

Berdasarkan riwayat, Rasulullah SAW memberikan perhatian khusus pada setiap detail gerakan shalat, termasuk sujud. Beliau menegaskan bahwa ruku’ dan sujud harus dilakukan dengan tuma’ninah dan sempurna, bahkan mengumpamakan orang yang tidak melaksanakannya dengan benar seperti orang kelaparan. Kelalaian dalam meluruskan sujud dan ruku’ dapat membatalkan shalat.

Ketika hendak sujud, Rasulullah SAW memiliki tata cara yang spesifik. Sebagaimana dicatat:

“Bila hendak sujud, beliau mengucapkan takbir [dan beliau merenggangkan tangannya dari lambungnya], kemudian sujud.” (HR. Abu Ya’la dengan sanad jayyid dan Ibnu Khuzainah dengan sanad lain yang shahih).

Mengenai urutan meletakkan anggota badan saat turun sujud, Rasulullah SAW juga memberikan arahan yang gamblang:

“Apabila seseorang di antara kamu bersujud, janganlah ia turun seperti cara unta, tetapi hendaklah ia letakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya,” (HR. Abu Dawud, Tamam dalam Al-Fawaid).

Dalam posisi sujud, Rasulullah SAW juga seringkali memanjatkan doa-doa tertentu. Di antara doa yang lazim beliau baca adalah “Subhaana rabbiyal a’laa” (Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi), “Subhaana rabbiyal a’laa wabihamdih” (Mahasuci Tuhanku Yang Mahatinggi dan segala puji bagi-Nya), “Subbuuhun qudduusun rabbulmalaa ikati warruuh” (Mahasuci dan Mahakudus, Tuhan seluruh malaikat dan ruh – HR. Muslim dan Abu ‘Awanah), serta “Subhaanaka allaahumma wabihamdika, laailaaha illaa anta” (Mahasuci Engkau, wahai Tuhan, dan segala puji bagi-Mu, tiada tuhan kecuali Engkau – HR. Muslim, Abu ‘Awanah, Nasa’i, dan Ibnu Nashr). Beliau juga pernah berdoa: “Allaahummaghfirlii maa asrartu wamaa a’lantu” (Ya Allah, ampunilah aku atas segala dosa yang kulakukan secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan – HR. Ibnu Abi Syaibah dan Nasa’i).

Selain itu, Rasulullah SAW juga dikenal melamakan sujudnya. Hal ini terekam dalam kisah para sahabat:

“Kami keluar bersama Rasulullah SAW pada suatu saat ketika shalat [Zhuhur atau ‘Asar]. Ketika itu beliau menggendong Hasan atau Husain. Nabi SAW maju, lalu meletakkan gendongannya [di sebelah kanannya], kemudian beliau bertakbir untuk melakukan shalat, lalu sujud. Salah satu sujudnya beliau lakukan lama sekali.” Kata perawi: “Aku angkat kepalaku [di tengah orang banyak], tetapi ternyata kulihat anak yang digendongnya masih berada di atas punggung Rasulullah SAW, padahal beliau tengah sujud, lalu saya kembali bersujud. Ketika Rasulullah SAW selesai melakukan shalatnya, orang-orang bertanya: ‘Wahai Rasulullah, engkau melakukan sujud dalam shalatmu [ini] lama sekali sampai kami mengira telah terjadi sesuatu pada Tuan atau Tuan mendapatkan wahyu.’ Beliau bersabda: ‘(Semuanya itu tidak, tetapi cucuku ini menunggangiku dan aku tidak senang tergesa-gesa sampai anak ini puas dengan keinginannya)’,” (HR. Nasa’i, Ibnu ‘Asakir, dan Hakim).

Show Comments (0) Hide Comments (0)
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted