Ramadan Dan Momentum Kepulangan Kepada Tuhan

Ruangsujud.com– Ramadan selalu datang dengan suasana yang berbeda. Masjid lebih ramai, tilawah terdengar dari berbagai sudut kota, dan meja makan sahur menjadi ruang sunyi tempat doa-doa lirih dipanjatkan. Namun, di balik semua ritual yang tampak, Ramadan sejatinya bukan sekadar perubahan jadwal makan atau bertambahnya rakaat salat malam. Ramadan adalah momentum kepulangan seorang hamba kepada Tuhannya.

Dalam salah satu kajian yang disiarkan di kanal Youtube-nya dengan judul Rahasia dan Hikmah di Balik Bulan Ramadhan, Ustadz Adi Hidayat mengajak kita menyelami struktur Al-Qur’an, khususnya dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah. Di sana terdapat susunan ayat yang sangat menarik. Ayat 185 berbicara tentang kewajiban puasa dan kemuliaan Al-Qur’an yang diturunkan pada bulan Ramadan. Ayat 187 menjelaskan detail hukum terkait relasi suami-istri dan batasan waktu dalam berpuasa. Namun, di antara dua ayat fiqih itu, terselip ayat 186 yang berbicara tentang doa dan kedekatan Allah dengan hamba-Nya.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat.”

Mengapa ayat tentang kedekatan dan doa itu diletakkan di tengah pembahasan hukum yang teknis? Di situlah letak rahasianya. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Fiqih hanyalah kendaraan. Tujuan akhirnya adalah taqarrub, kedekatan yang intim antara hamba dan Sang Pencipta. Tanpa rasa dekat itu, puasa berisiko menjadi rutinitas fisik yang melelahkan, bahkan kering dari makna.

Allah menggunakan panggilan “’Ibadi”—hamba-hamba-Ku. Sebuah panggilan penuh kasih. Bukan “wahai orang beriman” saja, bukan pula “wahai manusia,” tetapi hamba-hamba-Ku. Di dalamnya ada sentuhan cinta. Ramadan seakan menjadi surat undangan resmi dari Allah untuk kembali pulang.

Seruan ini menyasar dua golongan sekaligus. Pertama, mereka yang telah terbiasa taat. Bagi golongan ini, Ramadan adalah ruang akselerasi. Banyak ulama terdahulu yang ketika Ramadan tiba, menghentikan aktivitas publiknya demi fokus berinteraksi dengan Al-Qur’an. Mereka tidak merasa cukup dengan ibadah rutin sepanjang tahun. Ramadan dijadikan sebagai momen kalibrasi niat, membersihkan kemungkinan riya, serta memastikan bahwa setiap amal benar-benar bermuara kepada Allah.

Namun yang lebih menyentuh, panggilan “’Ibadi” itu juga ditujukan kepada mereka yang merasa jauh, yang hidupnya mungkin penuh noda dan kesalahan. Ramadan bukan milik orang-orang suci semata. Ia justru menjadi “rumah sakit” bagi jiwa-jiwa yang sedang sakit. Dalam Al-Qur’an surah Az-Zumar ayat 53, Allah memanggil hamba-hamba yang melampaui batas agar tidak berputus asa dari rahmat-Nya. Ini adalah deklarasi kasih sayang yang luar biasa.

Sering kali seseorang merasa tidak pantas datang ke masjid karena masa lalunya. Ia malu pada manusia, lalu perlahan menjauh dari Tuhan. Padahal, getaran kecil di dalam dada—keinginan mendengar ceramah, rasa haru ketika azan berkumandang, atau dorongan untuk membuka mushaf—itu bisa jadi tanda bahwa Allah sedang memanggilnya. Hidayah sering hadir dalam bentuk kegelisahan yang lembut.

Ramadan memberi peluang transformasi identitas. Seorang yang sebelumnya tenggelam dalam maksiat, ketika memutuskan bertaubat di bulan ini, sering merasakan ketenangan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bukan karena hidupnya tiba-tiba tanpa masalah, tetapi karena hatinya menemukan arah pulang.

Keajaiban taubat di bulan Ramadan bukan hanya pada penghapusan dosa, melainkan juga pada perubahan narasi hidup. Masa lalu yang kelam bisa Allah ubah menjadi pelajaran yang menguatkan orang lain. Luka yang dulu menjadi aib, dapat menjelma menjadi sumber empati. Inilah cara Allah memuliakan hamba yang kembali.

Kedekatan yang dijanjikan dalam ayat 186 itu bukanlah kedekatan fisik, melainkan kedekatan respons. Allah menegaskan bahwa Dia mengabulkan doa orang yang berdoa ketika ia memohon kepada-Nya. Namun, ada syarat yang tersirat: “maka hendaklah mereka memenuhi panggilan-Ku.” Artinya, hubungan ini bersifat dua arah. Allah sudah dekat. Tinggal kita yang menentukan, apakah ingin menyambut atau justru menjauh.

Ruang sujud menjadi simbol paling nyata dari kedekatan itu. Di sanalah dahi menyentuh bumi, sementara hati mengetuk langit. Tidak ada jarak sosial di hadapan Allah. Tidak ada status, jabatan, atau citra. Yang ada hanya hamba dan Tuhannya.

Ramadan seharusnya mengubah kualitas sujud kita. Dari sekadar gerakan rutin menjadi percakapan intim. Dari bacaan yang dihafal menjadi pengakuan yang tulus. Jika sepanjang bulan ini kita belum merasakan getaran rindu dalam doa, mungkin yang perlu diperbaiki bukan durasi puasanya, tetapi arah hatinya.

Pada akhirnya, Ramadan adalah tentang kepulangan. Tentang keberanian mengakui bahwa kita lelah berjalan sendiri. Tentang kesediaan membuka pintu hati ketika Allah sudah lebih dulu mengetuknya dengan panggilan kasih. Pintu maaf-Nya jauh lebih luas daripada samudera kesalahan kita.

Maka sebelum Ramadan berlalu, tanyakan pada diri sendiri: sudahkah kita benar-benar mendekat? Atau kita hanya sibuk menjalankan ritual tanpa pernah pulang? Di ruang sujud itulah jawabannya sering ditemukan—dalam hening, dalam air mata, dalam doa yang pelan namun penuh harap.

Show Comments (0) Hide Comments (0)
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted