Ruangsujud.com – Dalam satu hadits riwayat Imam al-Bukhari dikisahkan, suatu hari datang tiga orang sahabat ke istri-istri Nabi.
Mereka semua penasaran dengan ibadah Nabi. Sebagai orang yang tinggal serumah, istri Nabi tentu tahu detail aktivitas Nabi, termasuk dalam hal ibadah.
Kunjungan tiga sahabat itu tidak diketahui Rasulullah. Begitu mereka mendengar penjelasan apa dan bagaimana ibadah Nabi, mereka heran, ternyata ibadah Nabi tidak sesuai dengan ekspektasi mereka.
Dalam pandangan mereka, sebagai Nabi yang tentu memiliki tingkat spiritualitas tinggi, ibadahnya pasti luar biasa. Tapi realitasnya tidak demikian.
Mereka pun berkesimpulan, “Wajar Nabi ibadahnya sedikit begitu, ia kan sudah dijamin mendapat ampunan dari Allah. Kalau kita? Ya tetap harus berlomba dalam beribadah. Siapa yang ibadahnya paling hebat, dia lah yang pahalanya terbanyak,” kata mereka.
Sejurus kemudian, mereka bertekad untuk beribadah dengan lebih melangit lagi. Ada yang berjanji akan melaksanakan shalat malam selamanya.
Ada pula yang bersikukuh untuk berpuasa setiap hari. Bahkan, ada juga yang mantap menyatakan untuk membujang seumur hidup demi fokus beribadah.
Tekad konyol mereka ini sampai ke telinga Rasulullah. Segeralah Rasulullah menemui mereka. “Apa betul kalian yang berkata demikian?” Nabi mengawali.
“Demi Allah, aku adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian. Tapi tidak selamanya juga aku shalat malam, tidak setiap hari pula aku berpuasa, dan aku juga tetap menikahi wanita!.”
“Siapa yang tidak menyukai sunnahku, ia bukanlah dari bagianku!” tegas Nabi.
