Ruangsujud.com–Sebuah perkataan yang kerap disalahpahami sebagai Hadits Nabi, yakni ‘Carilah ilmu walau sampai ke negeri Cina,’ telah dinyatakan tidak otentik oleh sejumlah ulama dan ahli hadits terkemuka. Pernyataan yang populer di kalangan umat Muslim ini kini mendapatkan klarifikasi mendalam mengenai status keabsahannya.
Meskipun pesan moral untuk gigih dalam mencari ilmu sangat dianjurkan dalam Islam, penelitian mendalam oleh para ulama menunjukkan bahwa redaksi kalimat tersebut tidak memiliki dasar yang kuat sebagai sabda Nabi Muhammad SAW, sebagaimana banyak sumber rujukan primer yang menegaskannya.
Penjelasan mengenai ketidakotentikan hadits ini dirinci oleh Shaykh al-Ḥadīth Mawlānā Muḥammad Yūnus Jownpūrī, seorang ulama terkemuka. Mufti Shabbir Ahmed dan Mufti Muhammad Tahir juga telah menyetujui dan mengesahkan temuan ini, menegaskan bahwa narasi tersebut tidak sahih secara sanad.
Imam al-Bazzār dalam kitabnya (1/164) menyatakan, “Hadits Abu al-Atikah: ‘Carilah ilmu walau sampai ke negeri Cina,’ Abu al-Atikah tidak dikenal dan tidak diketahui asalnya. Maka hadits ini tidak memiliki asal.”
Senada dengan itu, Imam Ibnu Ḥibbān dalam kitab al-Majrūḥīn (10/489) menyebutkan, “Batil, tidak memiliki asal.” Pandangan ini juga disepakati oleh Imam al-Sakhāwī dalam kitab al-Maqāṣid al-Ḥasanah (hal. 121).
Terlepas dari status otentisitas hadits spesifik ini, ajaran Islam sangat mendorong umatnya untuk menuntut ilmu. Menjelajah berbagai belahan dunia demi mendapatkan pengetahuan telah menjadi praktik para ulama sepanjang sejarah dan banyak keutamaan otentik terkait upaya pencarian ilmu telah disebutkan dalam dalil-dalil yang sahih.
