Jihad: Makna Luas dan Perjuangan Mewujudkan Kehidupan Baik

Monitorday.com – Pemahaman populer tentang jihad yang kerap diidentikkan dengan perang dinilai tidak selaras dengan konteks dan tujuan risalah Islam yang sebenarnya. Analisis mendalam terhadap Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad SAW menunjukkan makna jihad jauh lebih luas dan bersifat strategis dalam mewujudkan kehidupan yang baik.

Penelitian ini menegaskan bahwa jihad merupakan sebuah kebijakan kreatif dalam perjuangan umat Islam untuk mencapai tujuan universal, yakni menciptakan kehidupan yang sejahtera, damai, dan bahagia bagi seluruh alam, yang tidak selalu identik dengan konflik bersenjata.

Secara terminologi, setidaknya ada tiga pengertian pokok jihad: “qital al-‘aduww al-kafir, perang terhadap musuh kafir”; “istifragh al-wus’ mudafa’ah al-‘aduww, mendayagunakan seluruh kemampuan secara maksimal dalam perlawanan terhadap musuh”; dan “ad-du’a’ ila ad-din al-haqq, dakwah mengajak mengikuti agama yang benar”. Dari ketiganya, pengertian kedua yang merujuk pada pengerahan seluruh kemampuan dalam perlawanan dianggap paling tepat oleh pembacaan Al-Qur’an yang cermat, sebagaimana termaktub dalam surat Makkiyah seperti al-Furqan, 25: 52 dan al-‘Ankabut, 29: 69. Jihad, dalam konteks ini, adalah perlawanan (`mudafa’ah`) untuk mengimbangi tantangan yang dihadapi, dengan tujuan akhir mewujudkan `hayah thayyibah` (hidup baik) sebagai manifestasi `Risalah Rahmatan lil ‘Alamin` (rahmat bagi seluruh alam). Dengan demikian, jihad didefinisikan sebagai “perlawanan dalam rangka perjuangan mencapai tujuan Islam mewujudkan hidup baik dengan ukuran sejahtera sesejahtera-sejahteranya, damai sedamai-damainya, dan bahagia sebahagia-bahagianya bagi semua di dunia dan akhirat.”

Makna jihad yang lebih luas ini diperkuat oleh hadis Nabi Muhammad SAW, termasuk yang diriwayatkan oleh Aisyah:

“Diriwayatkan dari “Aisyah Ummil Mukminin RA. Dia berkata kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasullah, kami (kaum perempuan) melihat bahwa jihad merupakan amal yang paling utama. Apakah kami boleh berjihad (ikut berperang)? Nabi menjawab, Tidak. Jihad yang paling utama adalah haji mabrur” (HR Imam Bukhari).

Haji mabrur, yang disebutkan sebagai jihad paling utama, memiliki keutamaan dan implikasi sosial yang mendalam, sebagaimana dijelaskan dalam hadis:

“Diriwayatkan dari Jabir RA. Dia berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Tidak ada balasan bagi haji mabrur kecuali surga.” Para sahabat bertanya, “Wahai Nabi Allah, apa kebajikan haji mabrur?” Nabi menjawab, “Memberi makan mereka yang kelaparan dan menebarkan perdamaian”. (HR Ahmad)

Selain itu, bentuk jihad yang paling utama juga mencakup keberanian moral, seperti diungkapkan dalam hadis berikut:

“Diriwayatkan dari Abu Umamah bahwa ada orang bertanya kepada Nabi SAW, “Jihad apakah yang paling utama?” Ketika itu Nabi sedang melempar Jumrah Pertama, sehingga beliau tidak menjawabnya. Orang itu bertanya lagi ketika Nabi sedang melempar Jumrah Tengah, beliau pun tidak menjawabnya. Setelah selesai melempar Jumrah ‘Aqabah dan meletakkan kaki di sanggurdi kulit (pijakan kaki yang menggantung di pelana hewan kendaraan), beliau bertanya, “Di mana orang yang bertanya tadi?” Orang tersebut menjawab, “Ini saya, ya Rasul.” Rasulullah menjawab, “Seutama-utama jihad adalah mengingatkan kebenaran kepada penguasa yang menyeleweng.”

Show Comments (0) Hide Comments (0)
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted