Suatu hari Rasulullah ﷺ berkumpul bersama para sahabat. Beliau tampak tersenyum. Para sahabat bertanya, “Apa yang membuat engkau tersenyum, ya Rasulullah?”
Beliau menjawab bahwa beliau diperlihatkan keadaan di hari akhir—seorang nabi dari Bani Israil datang membawa pedang, namun tidak ada pengikutnya yang masuk surga bersamanya. Ia adalah Nabi Syam’un al-Ghazi.
Syam’un dikenal sebagai hamba yang sangat kuat dan teguh dalam tauhid. Ia beribadah di malam hari dan berjihad di siang hari. Perjuangannya bukan sebentar. Ia melawan kaum kafir selama seribu bulan—sekitar 83 tahun lebih—tanpa henti.
Kekuatan dan keteguhannya membuat musuh kewalahan. Mereka mencari kelemahannya. Hingga akhirnya, melalui tipu daya dan pengkhianatan istrinya sendiri, Syam’un ditangkap dan disiksa dengan kejam. Dalam keadaan tak berdaya, ia berdoa kepada Allah. Dengan pertolongan-Nya, ia diberi kekuatan untuk merobohkan bangunan tempat ia disiksa, hingga musuh-musuhnya binasa.
Ketika kisah itu selesai diceritakan, para sahabat terdiam. Mereka membayangkan ibadah dan perjuangan selama seribu bulan. Salah seorang sahabat berkata, “Ya Rasulullah, bagaimana mungkin kami dapat menyamai ibadah seperti itu, sementara umur kami tidak sepanjang umat terdahulu?”
Pertanyaan itu menyentuh hati.
Tidak lama kemudian, Malaikat Jibril turun membawa wahyu:
“Innā anzalnāhu fī laylatil qadr… Laylatul qadr khairun min ألف شهر.”
Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam kemuliaan…
Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
Inilah anugerah besar bagi umat Nabi Muhammad ﷺ.
Jika umat terdahulu diberi umur panjang untuk beribadah, maka umat ini diberi malam yang nilainya melampaui seribu bulan.
Bukan panjang umur yang menjadi ukuran kemuliaan,
tetapi keberkahan waktu yang Allah pilihkan.
Dari sinilah kita memahami bahwa Lailatul Qadar adalah hadiah.
Penghiburan.
Sekaligus peluang emas bagi umat yang umurnya lebih singkat, namun dimuliakan dengan kualitas yang luar biasa.
Wallahu a’lam bish-shawab.
