RUANGSUJUD.COM - Imam Ibnu Hajar al-Asqalani (wafat 852 H), dalam salah satu kitabnya menceritakan sebuah riwayat perihal Nusaibah, saat ditanya perihal luka-luka yang menyayat badannya, kemudian menceritakan kisah heroiknya ketika melindungi Rasulullah.

Dalam kitab al-Ishabah disebutkan: “Ketika para sahabat kocar-kacir dalam peperangan Uhud, aku memberanikan diri untuk menyibakkan pedang, dan melontarkan anak panah untuk melindungi Rasulullah dari serangan musuh.

Ketika musuh Allah, Ibnu Qami’ah berhasil merangsek masuk ke dalam pertahanan, hingga mendekati Rasulullah, aku pun berlari dan menghalangi langkah dan maksud buruknya. Dengan sekuat tenaga, aku melawannya. Namun, perlawananku tak membuahkan hasil karena dia memakai pelindung dan tameng di sekujur tubuhnya sehingga sabetan pedangnya pun mengenai leherku, dan meninggalkan gores luka yang sangat dalam.” (Imam Ibnu Hajar, al-Ishabah fi Tamyizi as-Shahabah,[Beirut, Darul Jaili: 1412], juz VIII, halaman 265).

Saksi mata yang juga turut hadir dalam heroiknya perang Uhud kala itu memberikan pernyataan akan kegigihan dan pengorbanan Nusaibah dalam melindungi Rasulullah. Dalam sebuah riwayat disebutkan: “Sungguh aku melihat Nusaibah saat itu berjibaku dalam menangkis serangan Ibnu Qami’ah yang bermaksud membunuh Rasulullah. Hingga ia terkena sabetan pedang yang tepat mengenai lehernya. Sebanyak 13 bekas sabetan pedang di sekujur tubuhnya, dan tangan yang hampir putus ialah bukti ketulusan cintanya kepada Rasulullah.” (Ibnu Sa’ad, ath-Thabaqat al-Kubra, [Beirut, Darus Shadir], juz VIII, halaman 415).

Menurut Syekh Yusuf (wafat 1384 H), di saat yang bersamaan, Nusaibah mendapatkan apresiasi luar biasa dari kekasihnya, Rasulullah. Beliau mengakui kegigihannya. Bahkan, ketika Rasulullah ditanya kejadian perang Uhud, serta peran dari Nusaibah bint Ka’ab, beliau bersabda, ??? ?????????? ????????? ????? ???????? ?????? ??????? ???????? ????????? ???????? Artinya, “Tidaklah aku menoleh ke sisi kanan maupun kiri, melainkan aku melihat dia (Nusaibah) berperang untuk melindungiku.” (Syekh Yusuf, Hayatu as-Shahabah, [Muassasah ar-Risalah: 1999], juz II, halaman 130).

Kecintaannya kepada Rasulullah yang telah menjalar dalam diri Nusaibah binti Ka’ab terbalas dengan pujian sang kekasih kepadanya. Dalam beberapa riwayat Rasulullah memujinya melebihi beberapa sahabat laki-laki yang berperang saat itu, ????????? ?????????? ?????? ?????? ????????? ?????? ???? ??????? ??????? ????????? Artinya, “Sungguh tingkat dan kedudukan Nusaibah binti Ka’ab hari ini (Perang Uhud), lebih mulia dari orang-orang tersebut (menunjuk para komandan perang dari kalangan laki-laki).” (Syamsuddin ad-Dzahabi, Siyaru A’lami an-Nubala, [Muassasah ar-Risalah: 1985], juz II, halaman 278).

Demikian potret cinta yang tergambar dari sosok Nusaibah, ia mendapatkan cinta balasan dari sang kekasih. Ketulusannya membuah Rasulullah membalas cintanya, yang diwujudkan dalam bentuk perhatian dan kegembiraan atas keselamatan dari Nusaibah.

Dalam sebuah riwayat dijelaskan: “Pasca-perang Uhud, dan kepulangan Rasulullah dari daerah Hamra’ al-Asad, ia tak bisa beristirahat dengan tenang sebelum mengutus salah seorang sahabatnya, Abdullah bin Ka’ab (saudara Nusaibah) untuk mengecek kondisi Nusaibah. Hingga ia mendapat kepastian akan keselamatannya. Sambil ditemani rasa lega dan gembira atas keselamatan Nusaibah, ia pun beristirahat dengan tenang.”(Al-Asqalani: VIII/265).