Monitorday.com – Tasawuf, atau sufisme, diidentifikasi sebagai upaya penyucian jiwa dan perbaikan akhlak yang kerap dihubungkan dengan fenomena di luar nalar manusia, dikenal sebagai karomah. Praktik-praktik dalam tasawuf, termasuk penggunaan doa dan ayat suci untuk kesembuhan, memicu perdebatan di tengah masyarakat dan ilmu pengetahuan modern.
Fenomena luar biasa yang dialami para wali ini, seperti penyembuhan penyakit melalui pembacaan Surah Al-Fatihah, diyakini oleh sebagian besar kaum Asy’ariyah namun ditolak oleh mayoritas Mu’tazilah. Hal ini menyoroti ketegangan antara dimensi spiritual dalam Islam, dogma agama, dan pemahaman ilmiah, menempatkan praktik tersebut dalam kategori yang oleh antropologi disebut sebagai ‘magic’.
Tasawuf, yang mulanya fokus pada kezuhudan, kini mencakup dimensi tarekat dan dikenal dengan pengalaman spiritual yang melampaui batas akal. Berbeda dengan karomah yang dikaitkan dengan wali dan mu’jizat yang diberikan kepada nabi, ‘sihir’ dijelaskan sebagai perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam, bersumber dari kekuatan jahat, dan digunakan oleh mereka yang menolak kuasa Tuhan. Salah satu contoh mu’jizat adalah kisah Nabi Musa AS yang mengubah tongkat menjadi ular, menghadapi sihir Firaun.
Di tengah perdebatan tersebut, keyakinan akan kemampuan Al-Qur’an sebagai penyembuh tetap kuat di kalangan tertentu. Sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim menceritakan tentang seorang sahabat yang sembuh dari sengatan kalajengking setelah diobati dengan pembacaan Surah Al-Fatihah. Kejadian ini mendapatkan persetujuan Nabi Muhammad SAW.
Dalam hadis tersebut, Nabi Muhammad SAW bersabda, “sebaik-baik obat adalah Al-Qur’an.”
Ulama seperti Ibn Al-Qayim Al-Jauziyah (691-751 H) membenarkan dan meyakini khasiat Al-Qur’an, bahkan pernah mengobati penyakitnya sendiri dengan air zamzam yang dibacakan Al-Fatihah. Kitab Al-Madkhal karya Ibnul Haji juga menguraikan metode pengobatan dengan ayat Al-Qur’an, salah satunya dengan menuliskannya pada daun lalu direndam air untuk diminum. Namun, semua praktik ini harus dilandasi keyakinan bahwa kesembuhan mutlak berasal dari Allah, bukan dari perantara itu sendiri. Ja’far Syarif menambahkan, praktik “magic” ini mensyaratkan kesucian, tempat sepi, waktu yang tepat, serta pantangan tertentu, selain pembacaan asma’ul husna atau doa-doa khusus.
