Ruangsujud.com–Jumlah masjid di Jerman diperkirakan mencapai ribuan, namun sebagian besar bangunan ibadah umat Islam ini tidak mudah dikenali dari luar. Banyak masjid tersembunyi di halaman belakang rumah atau kawasan komersial, sehingga tak tampak jelas di lanskap kota seperti gereja Kristen yang dominan. Istilah Hinterhofmoschee digunakan untuk menyebut fenomena ini, alias masjid halaman belakang yang nyaris tak terlihat di jalan utama.
Salah satu fakta sejarah menarik adalah bahwa masjid pertama yang dibangun di Jerman dan seluruh Eropa Tengah pada tahun 1915, di kamp tawanan di Brandenburg, pernah digunakan Kekaisaran Jerman untuk membangkitkan semangat tawanan Muslim melawan kekuatan musuhnya dalam Perang Dunia I.
Bangunan masjid tertua yang masih berdiri saat ini berada di wilayah Berlin-Wilmersdorf dan menarik karena arsitekturnya mirip dengan Taj Mahal dengan dua menara tinggi lebih dari 30 meter. Masjid ini dirancang oleh arsitek Jerman Karl August Herrmann untuk komunitas Muslim Ahmadiyah Lahore pada awal abad ke-20.
Uniknya, di Berlin juga berdiri Ibn Rushd-Goethe Mosque — sebuah masjid yang progresif dan inklusif di mana laki-laki dan perempuan beribadah bersama serta perempuan diperbolehkan berkhotbah. Masjid ini menyatakan keterbukaan pada berbagai aliran Islam sekaligus berkomitmen pada prinsip kesetaraan gender dan hak asasi manusia.
Selain itu, meskipun banyak masjid berdiri di Jerman, praktik azān atau panggilan salat dari menara hampir tidak terdengar di banyak tempat. Mayoritas masjid tidak memiliki menara dan masyarakat setempat sering menganggap azan sebagai suara yang kurang diterima, sehingga hanya sekitar 30 masjid secara teratur mengumandangkannya.
Fenomena-fenomena ini menunjukkan keragaman fungsi dan bentuk masjid di Jerman, dari sejarah yang tak terduga hingga adaptasi sosial dan arsitektural di negara dengan latar belakang budaya dan agama yang berbeda.
