Monitorday.com – Paradigma pengobatan modern Barat yang cenderung empiris, berfokus pada penyebab fisik seperti infeksi virus atau bakteri, berbeda fundamental dengan pendekatan medis dalam Islam. Ilmu kesehatan Islam memahami realitas kesehatan dan penyakit dalam kutub ganda, yaitu lahiriah (empiris) dan batiniah (supranatural), mengindikasikan bahwa tidak semua penyakit dapat dijelaskan atau diobati hanya dengan tindakan medis klinis.
Pandangan ini berakar pada sejarah pemikiran bangsa Arab pra-Islam yang telah mengenal persepsi supranatural, seperti kuhhanah dan sihr, yang dikaitkan dengan nasib atau penyakit akibat gangguan jin. Meskipun kedatangan Islam mengikis praktik-praktik animisme tersebut, ajaran kenabian Muhammad SAW mempertahankan dan mengembangkan konsep dimensi batiniah non-indrawi dalam struktur teologinya, termasuk alam malaikat dan jin, yang kemudian mempengaruhi pemahaman medis holistik yang dikenal sebagai Thibbun Nabawi.
Menurut Ibnul Qayyim al-Jauziyah dalam kitab Tibb an-Nabawi, metode pengobatan dalam Islam diklasifikasikan menjadi tiga kategori utama:
“pertama, obat alamiah untuk jenis penyakit yang bersifat fisik (empiris); kedua, obat ilahiyah untuk jenis penyakit yang kasat mata; ketiga, kombinasi obat alamiah dan ilahiyah untuk jenis penyakit alamiah dan non indrawi.”
Pengobatan alamiah pada masa Nabi Muhammad SAW, meskipun sederhana, meliputi resep non-kimiawi seperti makanan sehat dan praktik bekam serta konsumsi madu, yang telah disinyalir dalam hadis. Berbeda dengan bangsa Romawi yang telah maju dalam ilmu medis dengan campuran bahan kimia, Nabi SAW lebih mengutamakan pendekatan alami untuk menjaga kesehatan diri, keluarga, dan para sahabat.
Untuk penyakit yang tergolong kasat mata, seperti “penyakit syubhat” (keraguan dalam hati) dan “penyakit syahwat” (dorongan hawa nafsu) yang dijelaskan dalam Al-Qur’an, ilmu pengetahuan modern baru mulai memahaminya di kemudian hari. Metode pengobatannya berfokus pada pengokohan keimanan melalui bimbingan Nabi SAW berupa doa-doa khusus. Selain itu, penyakit aneh seperti mata jahat, gangguan jin, dan gigitan binatang juga ditangani dengan kombinasi obat alamiah dan ilahiyah, melibatkan ruqyah dan doa perlindungan yang diajarkan oleh Nabi SAW.
Secara teologis, setiap penyakit, baik fisik maupun non-fisik, dipandang datang dari Allah SWT dengan hikmah tersendiri. Pandangan ini diperkuat oleh hadis riwayat al-Bukhari dari Abu Hurairah yang menyatakan:
“Allah tidak menurunkan penyakit kecuali Dia juga menurunkan obatnya.”
Hadis ini menegaskan bahwa penyakit bukan semata peristiwa empiris, melainkan melibatkan unsur ilahiyah, mendorong pendekatan holistik dalam pengobatan yang mencakup dimensi fisik dan spiritual.
