Monitorday.com – Pelajaran mendalam mengenai keimanan, kesabaran, dan ketaatan tanpa ragu menjadi inti dari narasi kehidupan para nabi, sebagaimana tercermin dalam kisah Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, dan Nabi Musa. Kisah-kisah ini menegaskan pentingnya berserah diri sepenuhnya kepada kehendak ilahi, bahkan ketika tujuan atau hasil akhir belum terungkap.
Dalam menghadapi cobaan dan ketidakpastian, umat Muslim diajak untuk merenungkan teladan para nabi yang teguh pendirian. Dari penantian Nabi Nuh membangun bahtera selama ratusan tahun, ujian Nabi Ibrahim yang diperintahkan menyembelih putranya, hingga Nabi Musa yang diperintah memukulkan tongkatnya ke laut di tengah kepungan Firaun, semuanya menunjukkan kepercayaan mutlak pada rencana Allah SWT.
Ketika Allah SWT memerintahkan menanam benih pohon, kemudian menebangnya dan membuat bahtera, saat itu Nabi Nuh a.s tidak tahu tujuan dari pembuatan bahtera itu. Yang Nabi Nuh tahu bagaimana beliau untuk selalu taat kepada Allah SWT dan tidak meragukan-Nya sedikit pun.
Yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim hanyalah taat atas perintah Rabb-Nya dan yakin ini merupakan ketentuan dari Allah SWT.
Tanpa mengetahui bahwa akan ada jalan keluar baginya dan kaumnya. Yang dilakukan Nabi Musa hanya taat dan tidak meragukan Allah SWT sedikit pun.
Mengambil hikmah dari teladan ini, umat Muslim didorong untuk senantiasa bersabar dan meyakini takdir Allah adalah yang terbaik, meskipun terkadang bertolak belakang dengan harapan manusia. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an: “…Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (TQS. Al-Baqarah: 216).
