Belajar dari Fairuz dan Sonny: Strategi Orang Tua Dampingi Anak Hafal Al-Qur’an

Ruangsujud.com – Di tengah derasnya distraksi era digital, mulai dari gawai hingga media sosial, mendampingi anak menghafal Al-Qur’an menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua modern. Aktivitas sekolah yang padat dan akses hiburan instan kerap membuat anak mudah merasa jenuh.

Tantangan tersebut juga dirasakan pasangan selebritas Fairuz A Rafiq dan Sonny Septian. Meski dikenal sebagai keluarga religius dan harmonis, keduanya menyadari bahwa proses menghafal Al-Qur’an tetap memiliki dinamika, termasuk saat anak mengalami penurunan semangat.

Putra sulung mereka, Faaz (13), memiliki target hafalan selama Ramadan. Namun bagi Fairuz, capaian bukanlah satu-satunya tujuan. Ia menilai proses dan kenyamanan anak jauh lebih penting.

“Kalau lagi nggak mood, kita nggak pernah maksa, nggak pernah harus selesai saat itu juga,” ujar Fairuz, Senin (2/1).

Menurutnya, banyak orang tua berada di posisi dilematis: ingin anak disiplin, tetapi tidak ingin mematikan semangat belajar. Dalam situasi ini, pendekatan yang tepat menjadi kunci.

Fairuz dan Sonny memilih untuk tidak menjadikan hafalan sebagai beban. Mereka memberikan pemahaman tentang pentingnya konsistensi sekaligus menjelaskan konsekuensi jika kewajiban ditunda. Pendekatan itu dilakukan melalui dialog yang sesuai dengan usia anak, bukan dengan tekanan atau ancaman.

Cara ini dinilai relevan dengan tantangan zaman. Menghafal membutuhkan fokus, kesabaran, dan pengulangan—sesuatu yang sering kali bertolak belakang dengan ritme cepat dunia digital.

Sonny menekankan pentingnya keteladanan dalam pengasuhan. Menurutnya, anak tidak hanya mendengar perintah, tetapi juga mengamati perilaku orang tua.

“Kalau kita memerintahkan, tapi nggak memperlihatkan, mereka nggak akan mencontoh. Tapi kalau mereka melihat, nanti mereka akan ikut dengan sendirinya,” jelas Sonny.

Ia meyakini bahwa ketika orang tua menjaga ibadah, menunjukkan kedisiplinan, dan konsisten pada nilai yang diajarkan, anak akan lebih mudah mengikuti tanpa merasa terpaksa.

Fairuz pun menyadari bahwa dalam upaya membentuk karakter religius, godaan untuk bersikap keras bisa muncul, terutama ketika anak mulai menunjukkan kebosanan. Namun ia menegaskan pentingnya menjaga keseimbangan dalam mendidik.

“Bagaimana caranya kita sebagai orang tua bukan menjadi diktator buat anak,” tutup Fairuz.

Kisah pasangan ini mencerminkan kegelisahan banyak orang tua masa kini: mencari titik temu antara ketegasan dan kelembutan, antara konsistensi dan fleksibilitas. Pendekatan penuh empati, dialog terbuka, dan keteladanan menjadi kunci agar proses menghafal Al-Qur’an tetap berjalan tanpa menghilangkan kebahagiaan anak.

Show Comments (0) Hide Comments (0)
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted