Monitorday.com – Syeikh Ahmed Saad, direktur pendiri Ihsan Institute of Arabic & Islamic Studies-UK, menjelaskan mengapa kisah Nabi Musa disebutkan lebih sering dalam Al-Quran dibandingkan nabi lainnya, bahkan hampir di setiap surah. Penjelasan ini menjawab pertanyaan umat mengenai fenomena tersebut yang kerap menjadi perbincangan.
Menurut Syeikh Ahmed Saad, frekuensi penyebutan kisah Nabi Musa dikarenakan kekayaan pengalaman yang ditawarkan, berfungsi sebagai panduan komprehensif bagi umat manusia di berbagai tingkatan, serta memiliki kesamaan signifikan dengan misi kenabian Nabi Muhammad SAW dalam memimpin dan membangun masyarakat.
Al-Quran, sebagai sumber pedoman hidup, menyajikan contoh nyata dari masa lalu untuk diambil pelajaran. Kisah-kisah ini dirancang untuk memberikan petunjuk dan perencanaan masa depan, yang relevan sepanjang waktu. Cerita-cerita kenabian, khususnya Nabi Musa dan Bani Israel, menawarkan pengalaman yang sangat kaya, relevan bagi pemimpin, individu, maupun masyarakat secara luas.
Allah SWT berfirman:
“Dalam sejarah mereka tentu ada pelajaran bagi orang yang paham. Ini bukan sebuah narasi yang bisa dipalsukan, tetapi sebuah verifikasi dari apa yang ada sebelumnya dan penjelasan yang berbeda dari semua hal dan panduan dan rahmat bagi orang yang beriman.” (QS Yusuf: 111)
Salah satu alasan krusial fokus pada kisah Nabi Musa adalah kesamaan mendalam antara beliau dengan Nabi Muhammad SAW. Keduanya memimpin umat, memenuhi peran sebagai nabi sekaligus pemimpin negara yang membangun masyarakat dan membebaskan rakyat dari tirani. Jika Firaun adalah representasi tirani di masa Nabi Musa, maka para pemimpin suku Quraisy menjadi representasi serupa di masa Nabi Muhammad. Keberhasilan Musa dan Muhammad dalam memimpin pembebasan dan mendirikan pemerintahan memberikan banyak pelajaran berharga.
Kisah Nabi Musa tidak hanya membahas persoalan pribadi, melainkan menyelamatkan seluruh bangsa dari penindasan dan penghinaan. Narasi ini mencakup perjuangan melawan tiran, dinamika Bani Israel yang kadang patuh dan kadang ingkar, hingga pelajaran tentang menghindari perdebatan yang tidak berarti, seperti dalam kisah sapi. Setiap kisah dalam Al-Quran memiliki keunikan dan menyampaikan pelajaran yang berbeda, membentuk gambaran sempurna yang dapat terus digali relevansinya seiring waktu.
