Ahmad Nausrau: Wagub Papua Barat Daya yang Fasih Bahasa Arab

Ruangsujud.com – Pagi itu, perairan Raja Ampat terlihat lebih tenang dari biasanya. Gugusan pulau karst berdiri seperti latar yang sengaja dipilih alam untuk menyambut tamu penting. Di kawasan wisata itulah Wakil Gubernur Papua Barat Daya, Ahmad Nausrau, menyambut kedatangan Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia, Abdullah Salem Al Dhaheri. Pertemuan itu bukan seremoni kosong, melainkan bagian awal dari penjajakan kerja sama antara Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya dan UEA, terutama di sektor-sektor strategis yang berpotensi menarik investasi.

Yang kemudian menyita perhatian publik justru terjadi di sela-sela agenda resmi itu. Ahmad Nausrau berbincang santai dengan sang duta besar—tanpa penerjemah, tanpa teks. Bahasa Arab mengalir lancar dari mulutnya, dengan intonasi yang akrab dan gestur yang cair. Percakapan itu terasa personal, seolah dua orang lama bertemu kembali, bukan sekadar pejabat dalam kunjungan diplomatik.

Momen tersebut terekam dalam sebuah video singkat yang diunggah di akun pribadi @ahmad_nausrau. Tak lama kemudian, video itu dibagikan ulang oleh akun X @somexthread dan menyebar cepat. Hingga Rabu (5/11/2025), rekaman itu telah ditonton lebih dari 190 ribu kali. Warganet ramai memberi komentar—sebagian terkejut, sebagian memuji. Bukan semata karena kefasihan berbahasa Arab, tetapi karena jarang melihat pejabat daerah dari Indonesia Timur tampil dengan kompetensi yang tak terduga.

Dari momentum itulah nama Ahmad Nausrau mulai dibicarakan lebih luas. Ia lahir di Pulau Kayu Merah, Kabupaten Kaimana, Papua Barat, pada 28 Juni 1982. Lingkungan tempat ia tumbuh jauh dari pusat kekuasaan dan sorotan nasional. Namun sejak kecil, Ahmad Nausrau telah akrab dengan pendidikan agama. Jalur hidup itu membawanya melangkah lebih jauh—hingga ke Kairo, Mesir, tempat ia menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar, salah satu pusat keilmuan Islam paling berpengaruh di dunia.

Pengalaman itu bukan hanya membentuk kemampuan bahasa, tetapi juga cara berpikir dan bersikap. Bahasa Arab baginya bukan sekadar alat komunikasi diplomatik, melainkan bahasa keseharian yang membentuk kedekatan kultural. Maka ketika ia berbincang dengan Dubes UEA di Raja Ampat, yang terlihat bukan sekadar pejabat daerah menjalankan tugas protokoler, melainkan seseorang yang membawa lintasan pengalaman panjang—dari pulau kecil di Kaimana hingga ruang-ruang pergaulan internasional.

Di titik ini, viralitas video tersebut menjadi lebih dari sekadar sensasi media sosial. Ia membuka jendela kecil untuk melihat sosok Ahmad Nausrau secara lebih utuh: seorang wakil kepala daerah dari wilayah termuda di Indonesia, dengan latar keilmuan lintas budaya, yang kini berada di persimpangan antara lokalitas Papua dan diplomasi global.

Show Comments (0) Hide Comments (0)
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted