Ruangsujud.com– Istilah ghosting semakin akrab di kalangan Gen Z. Fenomena ini terjadi ketika seseorang tiba-tiba menghentikan komunikasi tanpa memberikan penjelasan, meskipun sebelumnya menjalin hubungan yang cukup dekat. Pesan tidak dibalas, telepon diabaikan, bahkan akun media sosial dapat diblokir begitu saja.
Perilaku tersebut sering muncul dalam hubungan romantis, pertemanan, maupun proses pendekatan sebelum pernikahan. Bagi orang yang melakukannya, menghilang mungkin dianggap sebagai cara paling mudah untuk menghindari percakapan sulit. Namun, bagi pihak yang ditinggalkan, ghosting dapat menimbulkan kebingungan, rasa bersalah, hilangnya kepercayaan diri, dan pertanyaan yang terus berulang.
Dalam Islam, setiap hubungan antarmanusia harus dibangun dengan kejujuran, tanggung jawab, dan penghormatan. Seseorang tidak boleh mempermainkan perasaan orang lain, memberikan harapan palsu, atau membiarkan orang lain terus menunggu tanpa kepastian. Akhlak yang baik tidak hanya terlihat dari cara seseorang memulai hubungan, tetapi juga dari caranya menyelesaikan hubungan.
Mengakhiri komunikasi bukan berarti selalu salah. Ada kondisi tertentu yang membuat seseorang perlu menjauh, terutama ketika menghadapi hubungan yang manipulatif, penuh kekerasan, mengancam keselamatan, atau membawa kepada perbuatan yang dilarang agama. Dalam keadaan seperti itu, menjaga jarak dapat menjadi bentuk perlindungan diri. Namun, apabila situasinya aman, menyampaikan keputusan secara jujur tetap menjadi tindakan yang lebih beradab.
Islam juga mengajarkan agar ucapan dan tindakan tidak dibangun berdasarkan prasangka. Himpunan Putusan Tarjih menegaskan bahwa manusia tidak boleh menambahkan keyakinan berdasarkan perkiraan semata, karena persangkaan tidak dapat menggantikan kebenaran. Prinsip ini penting dalam hubungan: jangan membuat seseorang menebak-nebak kesalahannya ketika penjelasan dapat diberikan secara baik.
Penjelasan tidak harus panjang atau membuka perdebatan baru. Kalimat sederhana seperti, “Terima kasih sudah hadir dalam perjalanan ini, tetapi saya merasa hubungan ini tidak dapat dilanjutkan,” sudah lebih menghargai dibandingkan menghilang tanpa kabar. Kejelasan membantu kedua pihak menerima kenyataan dan melanjutkan hidup tanpa terus terjebak dalam ketidakpastian.
Bagi orang yang mengalami ghosting, penting untuk tidak langsung menyalahkan diri sendiri. Keputusan seseorang untuk menghilang lebih banyak menggambarkan kemampuannya menghadapi konflik daripada nilai diri orang yang ditinggalkan. Mencari dukungan dari keluarga, sahabat, atau tenaga profesional dapat membantu memulihkan luka emosional yang muncul.
Gen Z juga perlu memahami bahwa hubungan yang sehat tidak dibangun hanya dengan perhatian intens pada awal perkenalan. Hubungan yang baik membutuhkan konsistensi, batasan yang jelas, komitmen, dan keberanian membicarakan hal-hal yang tidak nyaman. Kata-kata manis tanpa tanggung jawab dapat berubah menjadi sumber luka.
Pada akhirnya, Islam tidak mengajarkan seseorang bertahan dalam hubungan yang merusak. Namun, Islam juga tidak membenarkan sikap yang sengaja menggantung, mempermainkan, atau meninggalkan orang lain tanpa alasan yang jelas. Bila sebuah hubungan memang harus berakhir, selesaikanlah dengan jujur, santun, dan tetap menjaga kehormatan kedua belah pihak.
