Kisah Sahabat Nabi yang Pingsan saat Puasa Ramadhan

Ruangsujud.com – Terik matahari Madinah seperti tak memberi ampun. Siang itu, seorang sahabat Nabi Muhammad SAW berjalan dengan tubuh limbung. Sejak kemarin ia belum makan, belum minum. Lapar menggigit, haus membakar tenggorokan. Hingga akhirnya tubuh itu tak lagi mampu bertahan—ia roboh dan pingsan.

Namanya Qais bin Shirmah Al-Anshari RA.

Peristiwa itu bukan sekadar kisah tentang seorang sahabat yang kelelahan saat puasa. Dari tubuh yang tumbang itulah, turun penjelasan Allah SWT yang kemudian kita kenal dalam Surah Al-Baqarah ayat 187—ayat yang hari ini menjadi pedoman jelas kapan umat Islam boleh makan dan minum saat Ramadan.

Di awal diwajibkannya puasa, aturan belum seterang sekarang. Belum ada batas tegas tentang waktu sahur dan berbuka. Sebagian sahabat bahkan mengira jika mereka tertidur sebelum berbuka, maka mereka tak lagi boleh makan sampai keesokan hari. Puasa menjadi sangat berat, bukan karena iman lemah, tetapi karena aturan belum lengkap.

Qais termasuk yang merasakan beratnya masa transisi itu. Seusai bekerja keras dan menahan lapar seharian, ia pulang saat waktu berbuka tiba. Dengan suara lelah ia bertanya kepada istrinya,
“Apa kita punya makanan?”

Jawaban yang datang pelan dan jujur:
“Maafkan aku, suamiku. Hari ini kita tidak punya makanan apa pun. Tunggulah sebentar, aku akan mencarikan makanan untukmu.”

Qais menunggu. Namun kelelahan membuatnya tertidur sebelum makanan itu tiba. Sang istri kembali dan melihat suaminya sudah terlelap. Ia tak tega membangunkannya. Dengan lirih ia berkata,
“Kasihan engkau, suamiku!”

Malam itu berlalu tanpa seteguk air pun menyentuh bibirnya. Esoknya, dalam kondisi sangat lemah, Qais jatuh pingsan.

Kabar itu sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Lalu turunlah wahyu yang menjelaskan dengan tegas: umat Islam boleh makan dan minum pada malam hari hingga terbit fajar. Aturan puasa menjadi jelas. Beban yang membingungkan diangkat. Umat Islam pun merasa lega.

Kisah Qais bin Shirmah RA bukan hanya tentang lapar dan pingsan. Ia adalah pengingat bahwa dalam setiap perintah Allah selalu ada kasih sayang. Islam tidak hadir untuk menyiksa, melainkan membimbing. Bahkan dari sebuah tubuh yang roboh di siang Madinah, lahir kemudahan bagi seluruh umat hingga akhir zaman.

Show Comments (0) Hide Comments (0)
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted