Rumi: Warisan Abadi Sang Pujangga Sufi

Monitorday.com – Jalaluddin Muhammad Rumi, seorang filsuf, teolog, dan penyair sufi Persia abad ke-13, terus dikenang melalui ajaran serta karya-karyanya yang abadi. Lahir di Balkh pada 1217 Masehi dan wafat di Qunyah pada 1273 Masehi, Rumi dikenal sebagai pendiri tarekat sufi Al-Maulawiyah atau Tarekat Jalaliah yang masih eksis hingga kini di berbagai belahan dunia Islam.

Perjalanan hidupnya menandai transformasi signifikan dari seorang faqih dan guru agama menjadi salah satu tokoh tasawuf terkemuka. Titik balik tersebut terjadi pada tahun 652 Hijriah setelah pertemuannya dengan Muhammad bin Ali bin Malik Daad, yang dikenal sebagai Syamsi Tabriz. Peristiwa ini mendorong Rumi untuk sepenuhnya mencurahkan diri pada kehidupan asketis, tasawuf, dan penggubahan puisi, dengan cinta ilahi dan kesatuan wujud sebagai inti ajarannya.

Dalam pandangan Rumi, konsep tauhid bukan sekadar pengakuan, melainkan peleburan diri di hadapan Zat Yang Maha Esa, sebuah proses yang ia uraikan secara puitis:

“Apakah makna ilmu tauhid? Hendaklah kau bakari dirimu di hadapan Yang Maha Esa. Seandainya kau ingini cemerlang bagai siang hari, bakarlah eksistensimu (yang gelap) seperti malam, dan luluhkan wujudmu dalam Wujud pemelihara wujud, seperti luluhnya tembaga dalam adonannya. Dengan begitu engkau bisa mengendalikan genggamanmu atas “Aku” dan “Kita”, dimana semua kehancuran ini tidak lain timbul dari dualisme.”

Filosofi Rumi banyak didasari oleh konsep *wahdatul wujud* (kesatuan wujud), di mana pemahaman tauhid didasari teori *fana’*—peleburan ego di hadapan Ilahi. Selain itu, ia juga berpendapat tentang adanya *Nur Muhammad* atau *Al-Haqiqah al-Muhammadiyah* sebagai dasar ma’rifat para nabi dan wali. Konsep cinta, yang dianggapnya sebagai cahaya kehidupan dan nilai kemanusiaan, menjadi inti ajaran dan karya-karya besarnya seperti Al-Masnawi dan Diwan Syamsi Tabriz.

Aspek *Nur Muhammad* sebagai manifestasi ilahi tergambar jelas dalam salah satu puisinya:

Dalam paket baru ‘sahabat’ itu muncul di tiap jiwa

Terkadang muncul dalam bentuk Ibrahim, dalam api nyala

Lalu ia pun hadapkan wajahnya ke bumi beberapa lama

Sementara itu, kekuatan cinta abadi sebagai esensi kehidupan dan ilahi ia gambarkan sebagai berikut:

Sesungguhnya cinta itu kekal; jadi harus diberikan kepada yang kekal pula. Ia tidak pantas diberikan kepada yang ditakdirkan fana’ atau binasa. Sesungguhnya cinta itu mengalir dalam diri orang yang dilaluinya, seperti darah. Jika cinta diletakkan pada tempatnya yang sesuai, ia laksana matahari yang tak kunjung tenggelam; atau bagai bunga indah yang tak bakal layu. Oleh karena itu carilah cinta suci yang abadi, cinta yang akan memusnahkan segala sesuatu, yang mampu menyegarkan rasa dahagamu.

Show Comments (0) Hide Comments (0)
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted