Ruangsujud.com–Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat, Ayi Yunus Rusyana, menyoroti fenomena menurunnya semangat ibadah umat Islam setelah bulan Ramadan. Pernyataan ini disampaikan dalam tausiah reflektif pada acara Gerakan Subuh Mengaji yang diselenggarakan pada Sabtu (28/03).
Ayi Yunus Rusyana menekankan bahwa bulan Syawal seharusnya tidak dipahami sebagai garis akhir dari ibadah, melainkan sebagai titik awal untuk menjaga dan bahkan meningkatkan kualitas keimanan secara berkelanjutan. Ia mengakui tantangan dalam mempertahankan konsistensi ibadah pasca-Ramadan.
Banyak umat, kata Ayi, cenderung menganggap Ramadan sebagai “garis finis” setelah sebulan penuh beribadah, yang berakibat pada penurunan semangat ibadah di bulan Syawal. Kondisi ini terlihat dari masjid-masjid yang kembali lengang, berkurangnya tilawah Al-Qur’an, dan merosotnya semangat bersedekah secara drastis setelah Ramadan.
“Fenomenanya begitu. Ramadan terasa sempit karena jamaah membludak, tetapi Syawal membuat masjid kembali ‘luas’,” ujarnya.
Ia juga menyinggung data penghimpunan zakat, infak, dan sedekah yang mencapai puncaknya di bulan Ramadan, namun kembali menurun pada bulan berikutnya. Menurut Ayi, kondisi ini menunjukkan adanya pandangan ibadah sebagai aktivitas musiman, padahal Al-Qur’an dalam Surah An-Nahl ayat 92 telah mengingatkan agar manusia tidak seperti orang yang merusak kembali benang yang telah dipintal kuat. Ia menambahkan, tujuan puasa dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, yakni la’allakum tattaqun, menunjukkan proses berkelanjutan, bukan hasil instan.
“Takwa itu bukan status yang selesai diraih setelah Ramadan, tetapi proses yang terus dijalani,” jelasnya.
