Imam Al-Ghazali Mundur Sebagai Rektor Universitas, ketika Banyak Ulama Sibuk Menjilat Penguasa

RuangSujud – masa mudanya, Al-Ghazali adalah merupakan Akademisi Mashur. Di mana saat usia 33 tahun, ia menjabat sebagai pemimpin Madrasah Nidhomiyyah di Baghdad, universitas paling prestisius di dunia Islam saat itu.

Posisinya setara dengan Rektor Universitas Negeri dan Penasihat Presiden saat ini. la dekat dengan Sultan, gajinya besar, dan fatwanya ditunggu-tunggu oleh negara.

Namun, di puncak kejayaan itu, Al-Ghazali melihat sesuatu yang busuk.

la menyadari bahwa kampus yang dipimpinnya bukan lagi tempat mencari kebenaran, melainkan Alat Politik Negara.

Kurikulum didesain untuk mencetak hakim dan birokrat yang loyal pada penguasa Bani Seljuk.

Ulama berlomba-lomba menjilat istana demi jabatan. Ilmu agama dijadikan komoditas untuk meraih status sosial.

Tapi Al-Ghazali tidak menunjuk hidung orang lain. Justru Ia menunjuk dirinya sendiri.

Dalam otobiografinya, ia menulis pengakuan yang jujur: “Aku memeriksa niatku dalam mengajar. Ternyata itu tidak murni karena Allah, melainkan demi mencari popularitas.

la sadar, bahwa dirinya adalah bagian dari masalah. Karena la adalah “petinggi” dari sistem yang memproduksi kemunafikan.

Krisis batin itu begitu hebat. Hatinya menolak untuk terus berpura-pura menjadi pejabat saleh di tengah sistem yang korup.

Al-Ghazali pun kemudian mengambil keputusan yang mengguncang Baghdad. la mengundurkan diri. la tinggalkan jabatan, dan semua fasilitas mewah yang selama ini ia dapat.

la kemudian memilih menjadi pengembara miskin, menyapu lantai masjid di Damaskus, demi menyelamatkan integritas jiwanya.

Dalam pengasingannya, ia menulis karya momumental, Ihya Ulumuddin, untuk mengingatkan bahwa ilmu agama yang diterapkan dalam kehidupan kita, harus disertai dengan ruh spiritualitas.

Show Comments (0) Hide Comments (0)
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments