Peringatan Perubahan Fungsi Masjid dan Perilaku Umat Muslim

Monitorday.com – Sejumlah riwayat kenabian dan perkataan ulama terkemuka mengemuka, menyoroti kekhawatiran mendalam akan perubahan fungsi masjid dan perilaku umat Muslim di masa depan. Narasi-narasi ini memberikan peringatan dini mengenai potensi pergeseran fokus dari ibadah spiritual ke urusan duniawi di dalam rumah-rumah ibadah, menggarisbawahi dampak serius terhadap esensi keagamaan.

Pesan-pesan tersebut menyorot sebuah era di mana Islam mungkin tinggal nama dan Al-Quran hanya tulisan, sementara pembangunan masjid menjadi megah namun kosong dari dzikir kepada Allah Ta’ala. Kondisi ini memicu refleksi kritis terhadap peran masjid sebagai pusat spiritual dan komitmen umat dalam menjaga kesucian serta tujuan utama rumah ibadah.

Diriwayatkan dari Al-Hasan, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Akan datang pada umatku suatu masa di mana pembicaraan mereka di dalam masjid-masjid mengenai urusan dunia mereka, Allah tidak perlu terhadap mereka, maka janganlah kamu duduk bersama-sama mereka.”

Senada, Az-Zuhri meriwayatkan dari Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesuatu yang asing di dunia ini ada empat, yaitu: Al-Quran di hati orang yang zhalim, masjid di daerah orang-orang yang tidak shalat di dalamnya, mushaf (al-Quran) di rumah yang tidak dibaca dan orang shalih di tengah-tengah orang-orang yang rusak.”

Lebih lanjut, Ali bin Abi Thalib menyampaikan, “Akan datang suatu masa, di mana Islam tinggal namanya saja, al-Quran tinggal tulisannya saja. Mereka membangun masjid dengan megah, namun masjid itu kosong dari dzikir kepada Allah Ta’ala. Orang-orang yang paling jahat di antara mereka adalah ulama-ulama mereka, di mana dari merekalah timbulnya fitnah, dan kepada mereka fitnah itu kembali.”

Namun demikian, terdapat pula janji dan motivasi bagi mereka yang menjaga kesucian masjid. Anas RA meriwayatkan dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Masjid-masjid itu akan dikumpulkan seolah-olah ia adalah unta yang putih kakinya (yang terbuat) dari ‘anbar (jenis minyak wangi), lehernya dari za’faran, kepalanya dari minyak kasturi yang semerbak baunya, dahinya dari batu permata yang hijau, dituntun oleh orang-orang yang adzan dan didorong oleh imam-imamnya. Mereka itu berjalan di lapangan pada hari kiamat, bagaikan kilat yang menyambar. Orang-orang (yang menyaksikan) hari kiamat itu berkata, ‘Maka adalah para malaikat yang dekat (dengan Allah), para nabi yang diutus (oleh Allah),’ kemudian mereka diberitahu, ‘Wahai orang-orang yang menyaksikan hari kiamat, mereka itu bukanlah para malaikat yang dekat (dengan Allah), dan juga bukan para nabi yang diutus, tetapi mereka adalah umat Muhammad SAW yang menjaga shalat dengan berjamaah’.”

Show Comments (0) Hide Comments (0)
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted