Ruangsujud.com– Dalam sebuah pengajian Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah di Yogyakarta, Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid, Hamim Ilyas menjelaskan bahwa akidah tauhid dalam perspektif Muhammadiyah memiliki peran yang berbeda dibandingkan dengan tradisi teologi lain seperti Asy’ariyah.
Menurut Hamim, dalam aliran Asy’ariyah akidah tauhid dipahami sebagai sistem kepercayaan spiritual. Namun, Muhammadiyah menekankan bahwa akidah tauhid bukan hanya keyakinan batin semata, melainkan juga sistem kepercayaan etis yang mendorong terwujudnya kesejahteraan, kedamaian, dan kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat.
Hamim menambahkan bahwa kesalehan pribadi dan sosial merupakan inti pemahaman ini, di mana seorang Muslim tidak hanya berfokus pada ritual spiritual, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan konkret untuk mengangkat martabat manusia dan mengatasi ketidakadilan.
Selain membandingkan dengan Asy’ariyah, Hamim juga menyinggung perbedaan dengan pandangan Wahabi yang cenderung literal dan kurang adaptif terhadap konteks zaman. Dalam konteks ini, Muhammadiyah tetap berpijak pada teks agama, namun berusaha menjadikan ajaran tauhid relevan secara sosial.
Imam tersebut juga menunjukkan bahwa implementasi sistem kepercayaan etis ini tercermin dalam keterlibatan perempuan dalam ruang publik melalui organisasi ‘Aisyiyah, sebagai wujud bahwa pemahaman tauhid Muhammadiyah memberi ruang kontribusi sosial lebih luas bagi umat.
