Ruangsujud.com – Di tengah derasnya arus modernitas, manusia menghadapi perubahan yang begitu cepat dalam teknologi, budaya, dan pola pikir. Globalisasi menghadirkan kemudahan sekaligus kegamangan, sementara disrupsi digital mengubah cara manusia bekerja, berinteraksi, bahkan memahami dirinya sendiri. Dalam situasi ini, pertanyaan mendasar kembali mengemuka: di manakah posisi akidah ketika dunia bergerak tanpa henti? Menurut sejumlah pengkaji pemikiran Islam yang dirangkum Ruang Sujud, akidah justru menemukan relevansinya yang paling mendalam di tengah krisis makna seperti hari ini.
Secara historis, modernitas membawa semangat rasionalisme dan kebebasan individu. Namun, pada saat yang sama, ia melahirkan relativisme nilai dan krisis spiritual. Banyak orang kehilangan orientasi hidup karena kebenaran dianggap cair dan subjektif. Dalam konteks inilah akidah Islam, sebagaimana dirumuskan dalam tradisi Ahlus Sunnah wal Jamaah, menawarkan kepastian teologis yang bersumber dari wahyu. Akidah tidak tunduk pada perubahan selera zaman, karena ia berakar pada Al-Qur’an dan Sunnah yang tetap. Prinsip ini menegaskan bahwa iman bukan sekadar identitas sosial, melainkan komitmen keyakinan yang kokoh.
Iman kepada Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa menjadi titik tolak dalam merespons modernitas. Ketika manusia modern cenderung memusatkan segalanya pada kemampuan akal dan teknologi, akidah mengingatkan bahwa segala daya dan ciptaan tetap berada dalam kehendak-Nya. Islam tidak menolak akal, tetapi menempatkannya dalam posisi yang proporsional. Akal adalah alat untuk memahami tanda-tanda kekuasaan Allah, bukan untuk menggantikan otoritas wahyu. Dengan keseimbangan ini, seorang muslim dapat berpartisipasi aktif dalam kemajuan ilmu tanpa kehilangan kesadaran transendennya.
Selain itu, iman kepada hari akhir memberi perspektif yang berbeda terhadap kehidupan dunia yang serba material. Modernitas sering kali menilai keberhasilan dari ukuran ekonomi dan popularitas. Namun akidah mengajarkan bahwa dunia hanyalah fase sementara sebelum kehidupan yang kekal. Keyakinan ini membentuk etika tanggung jawab: setiap tindakan memiliki konsekuensi di hadapan Allah. Dalam masyarakat yang sering terjebak pada pragmatisme, kesadaran eskatologis ini menjadi penyeimbang moral yang sangat penting.
Tradisi pemurnian akidah yang dikembangkan oleh gerakan seperti Muhammadiyah juga menunjukkan bahwa respons terhadap modernitas tidak harus bersifat defensif. Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah menegaskan pentingnya kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah sembari membuka diri terhadap kemajuan pendidikan dan ilmu pengetahuan. Menurut berbagai catatan sejarah organisasi tersebut, pendekatan ini memadukan keteguhan akidah dengan semangat tajdid atau pembaruan. Artinya, modernitas dihadapi bukan dengan kompromi terhadap prinsip iman, melainkan dengan penguatan fondasi tauhid.
Iman kepada qadha dan qadar pun relevan dalam menghadapi ketidakpastian global—mulai dari krisis ekonomi hingga bencana kemanusiaan. Akidah mengajarkan bahwa segala sesuatu berada dalam ketetapan Allah, tetapi manusia tetap dituntut untuk berikhtiar. Sikap ini melahirkan pribadi yang tangguh: tidak sombong ketika berhasil dan tidak putus asa saat gagal. Dalam era yang sarat tekanan psikologis, keseimbangan antara tawakal dan usaha menjadi kebutuhan mendasar.
Dengan demikian, akidah bukanlah warisan masa lalu yang terpisah dari realitas kekinian. Ia adalah fondasi yang menjaga arah kehidupan di tengah perubahan zaman. Modernitas boleh bergerak cepat, tetapi iman memberikan pijakan yang stabil. Seorang muslim yang memahami akidahnya tidak akan tercerabut dari akar keyakinan, meskipun hidup di tengah dunia yang terus berubah. Di situlah letak kekuatan akidah: meneguhkan hati, menjernihkan pikiran, dan menuntun langkah menuju tujuan akhir yang abadi.
