Krusialnya Keimanan Terhadap Takdir Allah SWT

Monitorday.com – Keimanan yang benar bagi seorang Muslim mencakup enam rukun, dengan beriman kepada takdir Allah – baik yang baik maupun yang buruk – sebagai rukun terakhir. Kesalahan dalam memahami konsep takdir dapat berakibat fatal, bahkan berpotensi membatalkan keimanan seseorang. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam mengenai permasalahan takdir ini sangat krusial bagi setiap Muslim untuk mencegah kekeliruan teologis yang mendasar.

Dalam pembahasan takdir, seringkali muncul istilah qodho’ dan qodar. Keduanya memiliki makna serupa jika disebut secara terpisah, namun mempunyai perbedaan substansial ketika disebutkan bersamaan. Qodho’ dimaknai sebagai sesuatu yang telah ditetapkan Allah pada makhluk-Nya, mencakup penciptaan, peniadaan, dan perubahan. Sementara qodar adalah sesuatu yang telah ditentukan Allah SWT sejak zaman azali, menunjukkan bahwa qodar mendahului qodho’ dalam urutan penetapan ilahi.

Keimanan terhadap takdir mencakup empat prinsip utama yang harus dipegang teguh. Pertama, mengimani bahwa Allah Ta’ala mengetahui segala sesuatu dengan ilmu-Nya yang azali dan abadi, baik yang kecil maupun besar, yang nyata maupun tersembunyi, termasuk perbuatan Allah sendiri maupun perbuatan makhluk-Nya. Kedua, mengimani bahwa Allah Ta’ala telah menuliskan catatan takdir segala sesuatu di Lauhul Mahfudz hingga hari kiamat, memastikan tidak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa tercatat.

Firman Allah Ta’ala dalam Al Qur’an menegaskan aspek ilmu dan pencatatan ini:

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (QS. Al Hajj: 70).

Selanjutnya, prinsip ketiga adalah mengimani bahwa kehendak Allah meliputi segala sesuatu, baik yang terjadi maupun yang tidak terjadi, dari hal besar hingga kecil, di langit maupun di bumi, termasuk perbuatan Allah dan perbuatan makhluk-Nya. Prinsip keempat adalah mengimani penciptaan Allah atas segala sesuatu, baik yang besar maupun kecil, yang nyata dan tersembunyi, termasuk perkataan dan perbuatan makhluk-Nya. Meskipun demikian, keimanan terhadap takdir tidak meniadakan kehendak dan kemampuan manusia untuk berbuat, sebagaimana dalil syariat dan realitas menunjukkan adanya kehendak dan kemampuan pada diri manusia.

Namun, perlu dipahami bahwa kehendak dan kemampuan manusia tersebut tetap berada dalam lingkup kehendak dan kekuasaan Allah Ta’ala, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:

“(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At Takwiir: 28-29).

Show Comments (0) Hide Comments (0)
0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Oldest
Newest Most Voted