Ruangsujud.com– Sholat dhuha merupakan sholat sunnah yang dikerjakan pada pagi hari setelah matahari mulai naik hingga sebelum masuk waktu Zuhur. Sholat dhuha termasuk ibadah sunnah yang dianjurkan karena memiliki sejumlah keutamaan sebagaimana dijelaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW. Meskipun istilah “sholat dhuha” tidak disebut secara eksplisit dalam Al-Qur’an, terdapat ayat yang berbicara tentang waktu dhuha, antara lain QS Ad-Dhuha ayat 1, “Demi waktu dhuha.”
Dalam QS Ad-Dhuha ayat 1, Allah SWT bersumpah dengan waktu dhuha. Ayat tersebut tidak secara langsung menjadi perintah melaksanakan sholat dhuha, tetapi menunjukkan kedudukan waktu dhuha dalam Al-Qur’an. Sementara itu, dasar anjuran melaksanakan sholat dhuha secara khusus bersumber dari hadis Nabi Muhammad SAW.
Salah satu hadis yang menjadi dasar keutamaan sholat dhuha adalah riwayat Abu Hurairah RA dalam HR Bukhari dan Muslim. Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah SAW memberikan wasiat kepadanya untuk melaksanakan puasa tiga hari setiap bulan, sholat dhuha dua rakaat, dan sholat witir sebelum tidur. Hadis ini menunjukkan bahwa sholat dhuha termasuk amalan sunnah yang mendapat perhatian dari Rasulullah SAW.
Keutamaan lainnya dijelaskan dalam HR Muslim dari Abu Dzar RA. Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap persendian manusia pada pagi hari memiliki kewajiban sedekah. Setiap tasbih, tahmid, tahlil, takbir, amar makruf, dan nahi mungkar bernilai sedekah, dan dua rakaat sholat dhuha dapat mencukupi semua itu. Hadis tersebut menjadi salah satu landasan penting mengenai keutamaan sholat dhuha sebagai bentuk sedekah atas nikmat tubuh.
Dalam hadis lain, Rasulullah SAW juga menyebut waktu dhuha sebagai salah satu waktu yang baik untuk beribadah. HR Tirmidzi meriwayatkan hadis mengenai sholat al-Awwabin, yaitu sholat ketika panas matahari mulai terasa. Para ulama mengaitkannya dengan waktu sholat dhuha yang lebih utama ketika matahari sudah cukup tinggi. Dengan demikian, pelaksanaan sholat dhuha tidak hanya berkaitan dengan jumlah rakaat, tetapi juga memperhatikan waktu yang sesuai dengan tuntunan syariat.
Sholat dhuha dapat dikerjakan sekurang-kurangnya dua rakaat, sementara jumlah rakaat lebih banyak masih menjadi pembahasan di kalangan ulama. Yang terpenting, seorang Muslim mengerjakannya sebagai ibadah sunnah dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT. Doa setelah sholat juga dapat digunakan untuk memohon kebaikan, keberkahan, kemudahan urusan, serta rezeki yang halal.
Keutamaan sholat dhuha karena itu tidak semestinya dipahami hanya sebagai ritual untuk mendapatkan kekayaan. Berdasarkan hadis-hadis Nabi SAW, nilai utama sholat dhuha adalah ibadah, syukur, sedekah, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Adapun rezeki dan berbagai kemudahan yang diperoleh seorang Muslim merupakan bagian dari karunia Allah yang tidak boleh dipisahkan dari usaha dan doa.
Dengan dasar Al-Qur’an mengenai kemuliaan waktu dhuha dan hadis-hadis Nabi SAW tentang anjuran serta keutamaannya, sholat dhuha dapat menjadi salah satu amalan sunnah yang layak dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut NU Online, umat Islam dapat menghidupkan sholat dhuha sebagai bagian dari rutinitas ibadah pagi, tanpa mengabaikan kewajiban utama berupa sholat lima waktu dan amal-amal lainnya.
