Ruangsujud.com– Sebuah analisis terhadap ayat-ayat Al-Qur’an, khususnya surat Al-Isra ayat 4 dan 5, mengungkap prediksi mengenai dua kali tindakan kerusakan besar yang dilakukan oleh Bani Israil di bumi serta kehancuran yang menyertainya. Teks suci ini secara eksplisit menguraikan takdir tersebut, memicu berbagai interpretasi sepanjang sejarah Islam mengenai identifikasi peristiwa-peristiwa tersebut.
Prediksi ini menjadi dasar bagi pemahaman tentang perjalanan historis Bani Israil, dari pembentukan kerajaan hingga serangkaian invasi dan kehancuran. Para penafsir Al-Qur’an telah mengidentifikasi momen-momen kunci dalam sejarah yang diyakini sesuai dengan ramalan tersebut, memunculkan diskusi tentang relevansi ramalan ini dalam konteks modern.
Al-Qur’an surat Al-Isra ayat 4 menyatakan, “Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israîl dalam Kitab itu: Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar”.
Kemudian, dalam surat Al-Isra ayat 5, dijelaskan konsekuensi dari kerusakan pertama tersebut: “Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana”.
DR. Bassam (2000:14) menjelaskan bahwa setelah wafatnya Sulaiman pada 935 SM, Bani Israil mulai membuat kerusakan di bumi dan terpecah menjadi kerajaan di utara dan selatan. Mufasir salaf seperti al-Maraghi, Ibnu Al-Jauzi, dan Jalaluddin al-Suyuthi menafsirkan kerusakan pertama sebagai penentangan terhadap Taurat, pembunuhan Nabi Syu’ya dan pemenjaraan Armia. Sementara kerusakan kedua diidentifikasi sebagai pembunuhan Nabi Zakaria dan Yahya, serta upaya pembunuhan Nabi Isa.
Kehancuran pertama bagi Bani Israil terjadi melalui serangan bertubi-tubi dari Mesir, Assiria pada 722 SM yang menghancurkan kerajaan utara, dan Kaldani (Babilon) pada 586 SM yang menaklukkan kerajaan selatan, mengakhiri warisan Nabi Daud AS. Berbeda dengan mufasir salaf yang mengaitkan kehancuran pertama dengan Jâlût, mufasir kontemporer yang dijelaskan oleh Bassam (2000:11) mengisyaratkan bahwa kehancuran pertama telah terjadi, sementara kerusakan kedua baru dimulai sejak berdirinya entitas Israel pada tahun 1948 M.
