Ruangsujud.com– Kecemasan atau anxiety menjadi salah satu persoalan kesehatan mental yang semakin banyak dialami masyarakat modern. Dalam perspektif Islam, kondisi tersebut dipandang sebagai bagian dari fitrah manusia, bukan semata-mata pertanda lemahnya iman. Al-Qur’an menggambarkan berbagai bentuk kegelisahan melalui istilah seperti khauf (rasa takut), halu’a (keluh kesah), dan dhaiq (kesempitan dada), sekaligus memberikan panduan spiritual untuk mengelolanya.
Sejumlah akademisi dan pendakwah menilai bahwa Islam menawarkan pendekatan psikologi spiritual yang relevan dengan tantangan kehidupan masa kini. Prinsip tersebut diwujudkan melalui penguatan hubungan dengan Allah SWT, disertai ikhtiar nyata dalam menghadapi persoalan hidup. Pendekatan ini juga dinilai selaras dengan perkembangan ilmu psikologi modern yang menekankan pentingnya pengelolaan emosi secara sehat.
Salah satu metode yang banyak dianjurkan adalah memperbanyak dzikir. Al-Qur’an dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28 menegaskan bahwa hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram. Selain itu, membaca Al-Qur’an sebagai syifa’ atau penawar hati, khususnya Surah Ad-Duha dan Al-Insyirah, diyakini dapat memberikan ketenangan bagi seseorang yang sedang menghadapi tekanan maupun kecemasan.
Islam juga mendorong umatnya menjaga kualitas shalat, memperbanyak doa, serta menumbuhkan keyakinan terhadap qada dan qadar. Para ulama menjelaskan bahwa sikap tawakal dan husnuzan kepada Allah membantu seseorang menerima kenyataan tanpa kehilangan semangat untuk terus berikhtiar. Di antara doa yang diajarkan Rasulullah SAW adalah, “Allahumma inni a’udzubika minal hammi wal hazan”, sebagai permohonan perlindungan dari kecemasan dan kesedihan.
Di sisi lain, para pakar kesehatan mental menegaskan bahwa kecemasan tidak selalu bersifat negatif. Dalam kadar yang wajar, rasa cemas dapat meningkatkan kewaspadaan, mendorong perencanaan yang lebih baik, serta memotivasi seseorang untuk mempersiapkan masa depan. Namun, apabila kecemasan berlangsung berlebihan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi gangguan kecemasan (anxiety disorder) yang memerlukan penanganan profesional.
Karena itu, pendekatan Islam tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Selain memperkuat ibadah dan kedekatan kepada Allah SWT, umat Islam juga dianjurkan mencari pertolongan kepada psikolog atau psikiater apabila gejala kecemasan sudah mengganggu fungsi kehidupan. Sinergi antara ikhtiar spiritual dan penanganan medis dinilai menjadi langkah yang lebih komprehensif dalam menjaga kesehatan jiwa.
