Ruangsujud.com– Sejarah ilmu pengetahuan Islam tidak berhenti pada masa Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, Al-Biruni, atau Ibnu Al-Haytham. Memasuki abad ke-18 hingga abad ke-21, muncul deretan ilmuwan Muslim dan tokoh sains dari dunia Islam yang ikut memengaruhi perkembangan ilmu modern, baik melalui pendidikan, teknologi, fisika, kimia, kedokteran, maupun rekayasa.
Pada abad ke-18, İbrahim Müteferrika menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah penyebaran ilmu di dunia Ottoman. Ia dikenal sebagai penerbit, cendekiawan, dan pelopor percetakan yang mencetak karya-karya tentang bahasa, sejarah, geografi, serta ilmu alam dan fisika. Perannya penting karena percetakan menjadi jembatan besar bagi penyebaran pengetahuan secara lebih luas.
Di masa yang sama, Gelenbevi Ismail Efendi dikenal sebagai matematikawan dan astronom Ottoman yang berpengaruh. Ia menjadi bagian dari tradisi ilmiah yang berusaha mempertahankan kekuatan matematika klasik, sekaligus merespons kebutuhan baru dalam pendidikan teknik dan militer. Kehadirannya menandai masa transisi ketika dunia Islam mulai semakin intensif berhadapan dengan perkembangan sains modern Eropa.
Memasuki abad ke-19, Hoca Ishak Efendi menjadi tokoh penting dalam modernisasi pendidikan sains di lingkungan Ottoman. Ia dikenal mengajar matematika, astronomi, metalurgi, geologi, fisika, kimia, dan mekanika. Melalui karya dan aktivitas pendidikannya, ia membantu memperkenalkan istilah serta metode sains modern ke dalam bahasa dan kurikulum pendidikan teknik.
Pada abad ke-20, nama Abdus Salam menempati posisi sangat penting dalam fisika modern. Fisikawan asal Pakistan ini menerima Nobel Fisika 1979 bersama Sheldon Glashow dan Steven Weinberg atas kontribusi dalam teori elektrolemah, yaitu teori yang menyatukan pemahaman tentang gaya elektromagnetik dan gaya nuklir lemah. Kontribusinya menjadi bagian penting dari fondasi Model Standar fisika partikel.
Selain Abdus Salam, Ahmed Zewail juga menjadi salah satu ilmuwan Muslim paling berpengaruh di dunia modern. Kimiawan kelahiran Mesir ini menerima Nobel Kimia 1999 atas kontribusinya dalam femtokimia, bidang yang memungkinkan ilmuwan mengamati gerak atom dan molekul dalam skala waktu sangat singkat saat reaksi kimia berlangsung. Karyanya membuka cara baru untuk memahami reaksi kimia pada tingkat paling mendasar.
Di bidang biologi molekuler, Aziz Sancar menjadi tokoh penting abad ke-21. Ilmuwan kelahiran Turki ini menerima Nobel Kimia 2015 atas penelitian tentang mekanisme perbaikan DNA. Temuannya membantu dunia memahami bagaimana sel memperbaiki kerusakan genetik, termasuk kerusakan akibat sinar ultraviolet. Pengetahuan ini sangat penting bagi riset kanker, genetika, dan kedokteran modern.
Dunia teknologi laser juga mencatat nama Ali Javan, fisikawan Iran-Amerika yang dikenal sebagai salah satu penemu laser gas helium-neon. Penemuan ini menjadi tonggak penting dalam perkembangan laser modern yang kemudian digunakan dalam telekomunikasi, pemindai barcode, teknologi medis, holografi, hingga transmisi data.
Dalam bidang rekayasa struktur, Fazlur Rahman Khan dari Bangladesh memberi pengaruh besar terhadap arsitektur modern. Ia dikenal sebagai pelopor sistem struktur tabung untuk gedung pencakar langit. Inovasinya memungkinkan bangunan tinggi menjadi lebih efisien, kuat, dan aman, serta memengaruhi desain gedung-gedung ikonik dunia.
Indonesia juga memiliki B.J. Habibie, insinyur penerbangan yang menjadi simbol kemajuan teknologi dirgantara. Habibie dikenal melalui pemikiran dan kontribusinya dalam rekayasa pesawat, penguatan industri strategis, serta pembangunan ekosistem teknologi nasional. Di Indonesia, ia menjadi inspirasi bahwa sains dan teknologi dapat menjadi jalan menuju kemandirian bangsa.
Di bidang nuklir, Samira Moussa dari Mesir menjadi salah satu tokoh perempuan Muslim yang menonjol pada abad ke-20. Ia dikenal sebagai fisikawan nuklir yang mendorong pemanfaatan energi atom untuk tujuan damai, terutama dalam bidang kesehatan dan kemanusiaan. Meski hidupnya singkat, gagasannya tentang sains untuk kesejahteraan manusia tetap dikenang.
Pada abad ke-21, Hayat Sindi dari Arab Saudi menjadi figur penting dalam bioteknologi dan inovasi kesehatan. Ia dikenal melalui riset sensor medis dan upayanya mendorong akses teknologi kesehatan yang lebih terjangkau. Kiprahnya juga penting karena memberi inspirasi bagi perempuan muda di dunia Islam untuk masuk ke bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika.
Nama Omar M. Yaghi juga semakin menonjol dalam kimia modern. Ilmuwan kelahiran Yordania ini dikenal sebagai pelopor kimia retikular dan pengembangan metal-organic frameworks atau MOF, material berpori yang dapat digunakan untuk menangkap karbon dioksida, menyimpan gas, memanen air dari udara kering, dan mendukung teknologi lingkungan masa depan.
Deretan tokoh ini menunjukkan bahwa kontribusi ilmuwan Muslim pada era modern tidak hanya berada di ruang sejarah, tetapi terus hadir dalam laboratorium, universitas, pusat riset, industri, dan teknologi global. Mereka bekerja dalam bidang yang sangat beragam, dari fisika partikel hingga bioteknologi, dari arsitektur pencakar langit hingga kimia material.
Warisan mereka juga memperlihatkan bahwa dunia Islam memiliki tradisi panjang dalam menghargai ilmu. Tantangan hari ini bukan sekadar mengenang kejayaan masa lalu, tetapi membangun ekosistem pendidikan, riset, pendanaan, dan kebebasan akademik agar lahir lebih banyak ilmuwan Muslim yang mampu menjawab persoalan zaman.
Dari abad ke-18 hingga abad ke-21, para ilmuwan Muslim membuktikan bahwa ilmu pengetahuan adalah bahasa universal. Mereka membawa pesan penting bahwa kemajuan peradaban hanya dapat dicapai ketika pengetahuan dibuka, dikembangkan, diuji, dan digunakan untuk memberi manfaat bagi umat manusia.
