Ruangsujud.com – Ketika dunia modern berbicara tentang roket, rudal balistik, dan teknologi militer mutakhir, banyak orang mengira bahwa semua itu adalah penemuan abad ke-20. Padahal, jejak awal teknologi roket telah muncul jauh sebelumnya—bahkan pada abad ke-13 dalam peradaban Islam. Salah satu tokoh penting dalam sejarah tersebut adalah Hasan al-Rammah, seorang ilmuwan Muslim dari Suriah yang dikenal sebagai pelopor pengembangan teknologi roket dan senjata berbasis mesiu.
Hasan al-Rammah hidup pada masa Kesultanan Mamluk dan dikenal sebagai ahli kimia sekaligus insinyur militer. Ia menulis sebuah karya penting berjudul Kitab al-Furusiyya wa al-Manasib al-Harbiyya (Buku tentang Kavaleri Militer dan Perangkat Perang Inovatif). Dalam karya ini ia mendokumentasikan berbagai teknologi senjata berbasis bubuk mesiu, termasuk roket, bom api, dan alat peledak lainnya.
Mengembangkan Formula Mesiu
Mesiu atau gunpowder sebenarnya pertama kali ditemukan di Tiongkok pada abad ke-9. Namun pengetahuan tersebut menyebar ke berbagai wilayah Eurasia, termasuk dunia Islam. Pada abad ke-13, para ilmuwan Muslim mulai mempelajari dan menyempurnakan teknologi tersebut.
Hasan al-Rammah memainkan peran penting dalam proses ini. Ia menuliskan puluhan resep pembuatan mesiu dan menjelaskan cara memurnikan saltpeter (kalium nitrat) melalui proses kimia seperti pelarutan dan kristalisasi. Metode ini dianggap sebagai penjelasan ilmiah pertama tentang proses pemurnian bahan utama mesiu.
Dalam bukunya tercatat sekitar 107 formula mesiu, dan 22 di antaranya secara khusus digunakan untuk roket. Komposisinya bahkan sangat mirip dengan formula roket modern—sekitar 75 persen nitrat, 10 persen sulfur, dan 15 persen arang.
Roket dan Torpedo Pertama
Kontribusi paling terkenal dari Hasan al-Rammah adalah desain perangkat roket dan torpedo awal. Ia menggambarkan sebuah alat yang disebut “telur yang bergerak dan terbakar sendiri”—sebuah torpedo yang digerakkan oleh roket. Perangkat ini terdiri dari dua lembar logam yang disatukan, diisi dengan bahan peledak, kemudian didorong oleh roket untuk meluncur di permukaan air menuju target.
Konsep tersebut sering disebut sebagai torpedo roket pertama dalam sejarah. Meski masih sangat sederhana dibandingkan teknologi modern, gagasan ini menunjukkan bahwa prinsip dasar sistem rudal—propulsi roket yang membawa bahan peledak menuju target—telah dipahami oleh ilmuwan Muslim sejak abad pertengahan.
Warisan Teknologi yang Mempengaruhi Dunia
Pengetahuan tentang mesiu dan roket yang dikembangkan dalam dunia Islam kemudian menyebar ke Eropa melalui terjemahan karya-karya ilmiah Arab. Banyak sejarawan teknologi menilai bahwa tulisan-tulisan Arab, termasuk karya Hasan al-Rammah, berperan penting dalam memperkenalkan teknologi roket ke dunia Barat.
Dengan demikian, sejarah teknologi roket tidak dapat dilepaskan dari kontribusi para ilmuwan Muslim pada masa keemasan peradaban Islam. Hasan al-Rammah menjadi contoh bagaimana pengetahuan kimia, teknik, dan militer berkembang pesat di dunia Islam jauh sebelum era revolusi industri.
Hari ini, ketika roket digunakan untuk berbagai tujuan—dari eksplorasi luar angkasa hingga sistem pertahanan modern—kita dapat menelusuri akar konsep tersebut hingga berabad-abad lalu, ketika seorang ilmuwan dari Suriah mencoba merancang “telur yang bergerak sendiri dan terbakar”, sebuah ide yang pada masanya mungkin tampak mustahil, tetapi kemudian menjadi fondasi teknologi rudal modern.
