RUANGSUJUD.COM - Hijrah merupakan peristiwa besar dalam Islam dan menjadi bagian penting dari perjalanan dakwah Rasulullah Saw. Hijrah Rasulullah dan umat Islam ke Madinah disebabkan besarnya penolakan dakwah Islam di Mekah. Juga karena firman Allah dalam surah An-Nisa ayat 97: 

"....Adalah kami orang-orang yg tertindas di negeri (Mekah). Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?" Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam dan neraka Jahannam adalah seburuk-buruk tempat kembali."

Sirah mengungkap bahwa perjalanan hijrah umat Islam ke Madinah dibagi menjadi beberapa kloter. Kloter pertama didominasi oleh para sahabat kecuali Abu Bakar ra, Ali bin Abi Thalib ra, dan Umar bin Khathab ra. Kloter pertama berangkat duluan atas perintah Rasulullah Saw dan mereka berhijrah secara sembunyi-sembunyi, berhati-hati, menyelinap dan tidak bergerombol.

Hijrah kloter kedua adalah kelompok Umar ra bersama umat Islam yang tersisa di Mekah. Jika sebelumnya kloter pertama hijrah dengan sembunyi-sembunyi, kloter Umar ra menyusul dan berangkat secara terang-terangan. 

Diriwayatkan bahwa Ali bin Abi Thalib pernah bercerita: “Setahuku, semua Muhajirin berhijrah dengan sembunyi-sembunyi, kecuali Umar bin Khathab. Sebelum berangkat, Umar membawa pedang, menggendong busur dan tangannya mencengkram anak panah juga sebatang tongkat komando. Umar pergi menuju Kakbah tatkala orang-orang Quraisy berkumpul di sana."

Ali melanjutkan, "Umar ra selanjutnya melakukan tawaf di Kakbah tujuh putaran dengan khusyuk, kemudian menuju ke Maqam Ibrahim untuk mendirikan shalat. Selepas itu, ia mendatangi satu per satu lingkaran orang Quraisy sambil berkata kepada mereka, "Wajah-wajah celaka! Allah menistakan orang-orang ini! Aku akan berhijrah ke Madinah melaksanakan perintah Rasulullah. Barang siapa yang ingin diratapi ibunya, ingin anaknya menjadi yatim, atau istrinya menjadi janda, hendaklah ia menemuiku di balik lembah ini.”

Kita bisa lihat betapa sayangnya Umar pada tanah kelahirannya, ia tidak ingin meninggalkan Mekah dengan sia-sia, bahkan sebelum keberangkatannya ia masih berharap orang di tanah kelahirannya bisa mengikuti jejak keislamannya dan mengajak mereka berhijrah ke Madinah.

Dengan semangat yang menggebu-gebu dan atas perintah Rasulullah Saw, Umar pun berangkat. Sedangkan Rasulullah Saw menjadi peserta hijrah kloter terakhir dan beliau hanya didampingi Abu Bakar ra dan Ali bin Abi Thalib.

Logika sederhana kita pasti bertanya, Kenapa ya Umar pergi hijrah duluan dan tidak mendampingi Rasulullah Saw? Bukankah Umar ra sahabat terdekat Rasulullah? Apakah Rasulullah tidak mempercayai Umar? 

Mengutip ceramah Ust. Salim A Fillah dalam youtube Pro-You Channel, diantara alasan Umar tidak mendampingi hijrah Rasulullah Saw adalah karena kakakter dan kepribadiannya yang kurang sabar. Di samping itu, Abu Bakar dan Ali memang ditugaskan Allah untuk mendampingi Rasulullah dalam urusan-urusan yang pelik dan rumit.

Umar ra unggul dalam ketegasannya, tapi tidak dalam mengatur strategi dan taktik di lapangan seperti yang dilakukan oleh Abu Bakar dan Ali. Mengatur perbekalan dan strategi pemberangkatan, nunggu perintah, bukan porsinya Umar ra.

Dalam kondisi tertekan, Umar ra tidak seperti Ali yang tenang dan fokus dalam menjalankan strategi. Apalagi ada ancaman pembunuhan Rasulullah Saw dari kaum kafir. Saat itu Ali menggantikan posisi Rasulullah di tempat tidurnya, sementara Rasulullah Saw menyelinap keluar. Jika Umar ada di posisi itu (posisi Ali), mungkin saja malah terjadi pertumpahan darah, karena watak arogan Umar ra saat menghadapi musuh.

Dari kisah perjalanan hijrah ini, tentunya kita dapat menarik kesimpulan bahwa tidak ada orang yang 'mampu' dan berkompeten dalam segala hal. Setiap orang punya keunggulan dan kelemahannya masing-masing. Kita tidak bisa menjudge orang, apalagi sekelas khulafaur rasyidin.

Terkadang kita dibutuhkan dalam satu bidang, tapi tidak di bidang yang lain. Demikian juga dengan Umar bin Khathab, beliau tidak dipilih menjadi pendamping hijrah Rasulullah karena memang ia tidak dibutuhkan dalam bidang strategi hijrah. Tapi ia dibutuhkan dalam diplomasi antar suku, dsb.