RUANGSUJUD.COM - Al-Quran mengungkap bahwasannya penciptaan alam raya tidak lain ditujukan untuk kepentingan makhluk yang tinggal di dalamnya, terutama manusia sebagai makhluk utama. Manusia diberi tempat yang luas di planet Bumi ini. Di samping itu, ia juga diberi tugas yang berat untuk memelihara dan menjaga ekosistem alam di bumi agar enak ditempati dan nyaman sebagai rumah, tidak hanya untuk dirinya sendiri, tapi untuk makhluk lain, seperti hewan dan tumbuhan.

Tapi, kenapa hanya manusia yang diberi tugas berat tersebut? Karena keturunan Adam inilah satu-satunya makhluk yang dianugerahi akal dan nafsu. Maka dari itu, dengan anugerah tersebut, Allah mempercayakan penjagaan dan pengelolaan alam kepada manusia. Baik buruknya penjagaan tergantung bagaimana cara pengurusnya menjaga.

Hal ini diatur oleh Allah dalam surah Al-Baqarah ayat 30. “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi.”

Manusia didaulat menjadi khalifah bahkan dilantik langsung oleh Allah di hadapan para penghuni langit. Khalifah secara etimologi bermakna pengganti orang lain dalam suatu pekerjaan. Atau bisa juga dimaknai pemimpin. Khalifah dalam ayat di atas dimaksudkan bahwa manusia itu pengganti atau wakil Allah di bumi untuk mengatur, merawat dan menjaganya.

Meski diberi kebebasan dalam mengelola bumi, manusia harus sadar akan dasar tanggung jawab penciptaannya. Sebab ini juga, manusia tidak boleh mempergunakan ‘kebebasan’ dengan seenak sendiri. Tapi harus mengikuti rules yang diatur dalam buku pedoman pengelolaan alam raya, apa lagi kalau bukan Al-Quran yang Mulia?

Akal dan nafsu yang dimiliki manusia pada dasarnya selalu mengarah pada dua kemungkinan, kemungkinan baik dan buruk, dan itu sunnatullah. Adanya Al-Quran berfungsi sebagai standarisasi kebaikan dan keburukan. Sehingga manusia tidak lagi bingung harus mengikuti kebaikan yang mana dan menghindari keburukan yang mana.

Manusia yang menjalankan tugasnya dengan baik akan berdampak positif bagi kehidupan, bahkan dapat dirasakan oleh semua makhluk. Sedangkan manusia yang lalai akan tugasnya akan berdampak buruk, seperti bencana dan kerusakan alam yang kita saksikan sekarang.

Kehancuran alam memang pasti terjadi. Seperti yang dijelaskan dalam surat Al-Qasas ayat 88. “Dan jangan (pula) engkau sembah tuhan yang lain selain Allah. Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Segala keputusan menjadi wewenang-Nya, dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan.”

Semua yang terjadi di dunia ini tidak lepas dari hukum sebab-akibat. Begitupun dengan kehancuran alam, pasti melalui proses terlebih dahulu. Manusia diamanahi sebagai pengelola alam, jika yang terjadi pada alam justru kehancuran, maka dapat dipastikan bahwa manusia kurang baik mengelolanya.

Hal tersebut ditegaskan lebih jelas dalam surah Ar-Rum ayat 41 bahwasannya kerusakan di darat dan laut terjadi karena perbuatan tangan manusia.

“Dan jangan (pula) engkau sembah tuhan yang lain selain Allah. Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Segala sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Segala keputusan menjadi wewenang-Nya, dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan.”