RUANGSUJUD.COM - Dalam sejarah umat manusia, pernah terjadi berbagai bencana dan pandemi yang melanda mereka dalam bentuk penyakit tho’un, kelaparan, banjir, gempa dan kelaparan

Dunia Islam tidak terkecuali dari peristiwa pandemik dan bencana alam. Di dunia Islam, pandemik yang paling banyak menelan korban adalah pandemik Thaun yang terjadi berkali-kali di Mesir, Syam, Maroko, Irak dan Andalusia yang korbannya ribuan nyawa penduduk

Peristiwa ini didokumentasikan oleh para sejarawan yang mengalami langsung peristiwa tersebut seperti: al-Maqrizi, Ibn Tigri Bardi, Ibn Katsir, Ibn Iyas, Ibn Bathuthah dan Ibn
Adzari al Marakisyi. Ia juga didokumentasikan dalam buku-buku fiqh nawazil seperti karya Ibn Rusydi dan yang lainnya.

Dalam sejarah Islam, pandemi memunculkan efek yang tidak sederhana, terutama pada tataran sosial, ekonomi, politik, akhlak masyarakat muslim. Dengan demikian, Covid-19 bukanlah satu-satunya pandemi yang melanda umat manusia.

Secara teologis, peristiwa ini harus diyakini sebagai ketentuan yang telah Allah tetapkan bagi umat manusia, baik kemunculannya diyakini sebagai sesuatu yang alami atau konspirasi.

Ketika kita yakin bahwa segala sesuatu hanya akan terjadi karena iradah Allah Swt, maka kita diperintahlan mengambil tindakan-tindakan preventif dan menjauhi penyebabnya, tentu saja setelah berusaha menempuh sebab dan tawakal kepada Allah Swt.

“Belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.”

Pengertian Wabah (Waba) dan Tha’un secara etimologis dan terminologis:

Dalam Bahasa Arab, digunakan istilah: menuduh/Menusuk. Penggunaan kata Tha’un dari asal kata “menusuk”, memiliki korelasi makna, betapa penyakit thaun datang secara tiba-tiba, cepat dan sakit. Dengan demikian, kata Tha’un digunakan untukmenunjukkan kepada kematian
menimpa sekelompok manusia yang datang cepat dan tiba-tiba, kemudian kematian ini merebak kemana-mana seperti sebuah pandemi.

Adapun secara istilah, makna Tha’un terdapat dalam beberapa sabda Rasulullah Saw. di antaranya:

Dari ‘Aisyah ra, istri Nabi saw, (ia berkata): Aku bertanya kepada Rasulullah saw tentang al-tha’un. Nabi lalu menjawab: Sesungguhnya wabah al-tha’un (penyakit menular dan
mematikan) itu adalah adzab yang Allah kirimkan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dan Allah juga menjadikannya sebagai rahmat (bentuk kasih sayang) bagi orang-orang beriman.

Tidaklah seorang hamba yang ketika di negerinya itu terjadi al-tha’un lalu tetap tinggal di sana dengan sabar (doa dan ikhtiar) dan mengharap pahala disisi Allah, dan pada saat yang sama ia sadar bahwa tak akan ada yang menimpanya selain telah digariskan-Nya, maka tidak ada balasan lain kecuali baginya pahala seperti pahala syahid. [HR al-Bukh?r?].

Dari ‘Abdull?h Ibn Amir (diriwayatkan) bahwa ‘Umar pergi menuju Syam. Ketika sampai di wilayah Sargh, ia mendapatkan kabar tentang wabah yang sedang terjadi di Syam. ‘Abd ar-Ra?m?n Ibn ‘Auf lalu menginformasikan kepada Umar bahwa Nabi suatu ketika pernah bersabda: Apabila kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika wabah itu terjadi di tempat kamu berada, maka jangan keluar (kabur) dari tempat itu. [HR alBukh?r?].

Bentuk penyakit Tha’un ini adalah luka fisik berupa benjolanbenjolan yang terjadi di beberapa bagian anggota tubuh seperti tangan, lengan, ketiak dll. Ia disertai rasa sakit tak terhingga. Ia juga disertai beberapa gejala, seperti muntahmuntah dan debar jantung yang kuat.

Ibnu Katsir menyebutkan: Ia adalah sejenis penyakit yang mengkontaminasi udara yang mengakibatkan kerusakan pada badan dan prilaku. Ia merupakan dzat beracun yang menyebabkan timbulnya benjolan pada bagian-bagian tubuh yang halus, yang menyebabkan kematian.

Penyebabnya adalah darah kotor yang rusak dan membusuk. Dengan demikian, terjadinya bengkakan dimana-mana adalah salah satu gejala terjadinya thoun. Benjolan tersebut dapat berbentuk gumpalan atau kelenjar.

Oleh sebab itu, Rasulullah saw bersabda: “ia berupa daging tumbuh bagaikan daging tumbuh yang menimpa onta, ia keluar di ketiak, dan bagian bawah perut.” (HR. Thabrani)

Ibn Hajar juga membedakan antara pandemi dan tha’un, dimana tha’un adalah bagian dari pandemi dan tidak sebaliknya. (bersambung)

Penulis: Dr. Cecep Taufikurrahman, Alumni Ponpes Al Furqon Cibiuk Garut dan Universitas Al Azhar Mesir

Tulisan di atas merupakan materi yang disampaikan dalam kegiatan Gerakan Subuh Mengaji 'Aisyiyah Jawa Barat 17 Juli 2021