RUANGSUJUD.COM - Setelah mendapatkan wahyu yang pertama berupa perintah membaca, Rasulullah SAW kembali mendapatkan wahyu untuk menyebarkan risalahnya. Rasulullah SAW mulai mengajarkan wahyu Allah SWT kepada orang-orang terdekatnya. Rasulullah SAW memulai dakwah secara sembunyi-sembunyi dengan mendidik sahabat-sahabatnya yang pertama masuk Islam (Assabiqunal Awwalun) di rumah Arqam bin Abil Arqam. 

Arqam bin Abil Arqam merupakan salah satu sahabat yang masuk Islam pada masa awal. Arqam mempersilahkan rumahnya yang terletak di Bukti Safa untuk menjadi tempat belajar Islam. Waktu itu ada 40 orang yang belajar Islam di sana. Mereka belajar Islam di sana secara sembunyi-sembunyi sampai masuknya Umar bin Khattab ke dalam Islam. Setelah Umar masuk Islam, Rasulullah SAW dan para sahabat mulai berdakwah secara terang-terangan. 

Menurut para ulama, selama di Mekkah, Rasulullah SAW lebih banyak mengajarkan akidah tauhid. Hal ini sesuai dengan wahyu yang diturunkan kepada beliau. Dimana mayoritas ayat pada fase Mekkah berbicara mengenai akidah Islam seperti akhirat, surga dan neraka, tauhid, kenabian Muhammad SAW dll. Berbeda dengan ayat-ayat yang turun di Madinah. Mayoritas berisi mengenai aturan-aturan hukum. Pada fase Madinah ayat yang diturunkan berisi mengenai aturan-aturan syariat bagi umat Islam. 

Hasil dari pendidikan Rasulullah SAW terbukti berhasil. Para sahabat yang diajari di Darul Arqam tumbuh menjadi muslim yang militan. Misalnya Ali bin Abi Thalib yang bersedia menggantikan Rasulullah SAW di tempat tidur saat akan dibunuh oleh Kafir Quraisy. Sahabat-sahabat lainnya juga tak kalah militan. Mereka tetap teguh terhadap agama Islam walaupun mengalami boikot pasca meninggalnya Khadijah dan Abu Thalib. 

Dalam menjalankan pendidikannya, Rasulullah senantiasa menjadi suri teladan bagi sahabatnya. Hal ini ditegaskan dalam Al Quran Surat Al Ahzab ayat 21. Rasulullah SAW adalah seorang uswah hasanah atau teladan yang baik. Dalam sebuah hadits, istri Rasulullah SAW Sayyidah 'Aisyah menjelaskan bahwa akhlak Rasulullah SAW adalah Al Qur'an. Artinya Rasulullah SAW mengamalkan wahyu yang diterima sebelum mengajarkannya kepada orang lain. 

Dari uraian di atas, ada beberapa strategi pendidikan Rasulullah SAW yang bisa kita terapkan pada masa kini. Pertama Rasulullah SAW memulai terlebih dahulu dengan mendidik karakter sahabatnya sebelum mengenai detail syariat. Hal ini bisa kita terapkan kepada siswa zaman sekarang. Siswa harus dibekali dulu dengan karakter dan etika sebelum diajari hal-hal teknis. Karakter merupakan pondasi keberhasilan pendidikan. 

Kedua, Rasulullah SAW tidak hanya mengajari sahabatnya untuk melakukan sesuatu. Namun Rasulullah SAW juga mencontohkannya dalam bentuk keteladanan yang konkret. Ada sebuah ungkapan, guru kencing berdiri murid kencing berlari. Artinya perilaku seorang guru sangat berpengaruh terhadap sikap seorang anak. Jika guru mencontohkan tidak baik, sang anak pun akan menirunya. Sebaiknya jika guru mencontohkan hal yang baik, maka murid pun akan mengikutinya.