RUANGSUJUD.COM - Taubat dan Istighfar merupakan dua kata yang sudah akrab di kalangan umat Islam. Dua kata ini juga mempunyai konotasi yang mirip, yakni pertaubatan dan memohon ampunan. Walaupun sekilas mirip, namun dua kata ini mempunyai perbedaan makna. Mari kita ulas satu per satu. 

Taubat berasal dari kata taaba yatuubu yang artinya kembali. Taubat secara bahasa adalah saat seseorang kembali ke tempat asal setelah dia pergi. Dalam konteks keagamaan, taubat artinya kembali kepada kondisi asal setelah sebelumnya melakukan sebuah dosa. 

Dosa merupakan sebuah penyimpangan , taubat adalah kembali dari jalan menyimpang ke jalan yang lurus. Taubat yang benar adalah taubat nasuha, yakni setelah dia kembali ke jalan yang benar, dia tidak kembali lagi kepada jalan yang menyimpang. 

Jika seseorang mudah bertaubat lalu kembali lagi mengulangi maksiat, taubatnya disebut taubat sambal. Ibarat makan sambal yang pedas namun setelah itu dilakukan lagi. Perintah untuk melakukan taubat nasuha ada dalam QS. At Tahrim: 8. 

Istighfar berasal dari kata ghafara yang artinya perban untuk menutup sebuah luka. Istighfar artinya meminta untuk menutup sesuatu. Apa maksudnya? Saat kita melakukan dosa, maka kita akan mendapatkan balasan dari dosa kita.

Istighfar artinya meminta kepada Allah SWT untuk menutupi balasan dari kesalahan kita. Sehingga kita tidak perlu menerima balasan dari dosa kita. Dengan kata lain istighfar adalah meminta kepada Allah agar mengampuni kita. Ampunan artinya saat kita seharusnya dihukum, Allah SWT memberikan kebijaksanaan untuk tidak menghukum kita. 

Sudah jelas bukan perbedaan taubat dan istighfar? Istighfar artinya kita kembali ke jalur yang benar. Sementara istighfar adalah permohonan agar dosa-dosa yang sudah terlanjur dilakukan dibatalkan hukumannya. 

Walaupun berbeda, namun taubat dan istighfar tidak bisa dipisahkan. Seorang pendosa pertama-tama harus bertaubat terlebih dahulu. Setelah taubat, seorang pendosa harus beristighfar. Taubat membuat dia berada kembali di jalan yang benar. Istighfar membuat hukuman atas dosa yang dilakukan dibatalkan. 

Sebagai manusia yang sangat sulit untuk bersih dari maksiat, taubat dan istighfar harus dilakukan setiap hari, bahkan setiap waktu. Bahkan Nabi Muhammad SAW yang sudah dijamin surga pun masih merutinkan beristighfar.