RUANGSUJUD.COM - Vaksinasi merupakan salah satu upaya dari imunisasi tubuh terhadap virus dan penyakit. Vaksinasi kembali populer mengingat ganasnya pandemi covid-19 yang ditemukan obatnya. Sebelum pandemi melanda, vaksinasi telah dilakukan untuk mencegah berbagai penyakit seperti polio, cacar, rubella, meningitis dll. 

Namun tahukah kalian? Sebelum ditemukan oleh barat, kekhalifahan Turki Usmani telah mempraktikan metode vaksinasi. Walaupun belum sebaik yang ditemukan oleh Edward Jenner, penemu vaksin cacar asal Inggris, namun metode vaksinasi pada masa Turki Usmani sudah mirip dengan apa yang dilakukan ilmuwan barat. 

Dua orang akademisi Acibadem University School of Medicine salah satu perguruan tinggi di Istanbul Turki Dinc dan Ulman menulis artikel berjudul The Introduction of variolation A La Turca to The West by Lady Mary Montagu and Turkey's contribution to this. 

Dalam artikelnya, Dinc dan Ulman mengatakan metode pembuatan kekebalan buatan sebenarnya telah lama dipraktikan oleh bangsa China. Caranya dengan mengambil bekas luka bintil cacar yang telah mengering dari si sakit. Kemudian, borok yang telah mengering itu dimasukkan ke dalam lubang hidung orang lain. Tentu, harapannya agar orang tersebut dapat kebal cacar meskipun ada pula yang justru tertular penyakit tersebut.

Bangsa Turki Seljuk kemudian mengembangkan metode baru bernama variolasi. Dilansir dari republika.co.id, teknik variolasi pada dasarnya mengumpulkan serpihan-serpihan kulit yang telah terinfeksi cacar, untuk kemudian diberikan kepada orang yang normal. Tujuannya agar si resipien dapat kebal cacar. Variolasi pertama kali diperkenalkan orang-orang Turki Seljuk.

Suku bangsa itu mulai menguasai Anatolia (kini negara Turki) sejak abad ke- 11 atau sebelum munculnya Kesultanan Utsmaniyah/Ottoman. Orang Seljuk yang ahli variolasi diketahui mempraktikkan metode ini dalam upacara adat tiap musim gugur. Suatu manuskrip menggambarkan bagaimana seorang pria melakukan variolasi terhadap enam anak di Istanbul.

Sumber lain menyebut, variolasi dilakukan pertama kali oleh orang-orang Adighe (Circassian) yang tinggal di pesisir timur Laut Hitam. Pada abad ke-17, pengetahuan ini sampai di Utsmaniyah terutama melalui para perempuan Adighe yang menjadi selir sultan di istana. Suatu kompleks permakaman di Istanbul menjadi lokasi kuburan berbatu nisan tanggal 7 November 1697.

Prasasti tu didirikan untuk mengenang putra Ali Chelebi, seorang dokter istana sekaligus ahli variolasi. Fakta bahwa anaknya Ali Chelebi wafat dalam usia 60 tahun menunjukkan, variolasi sudah dipraktikkan bertahun-tahun lamanya sejak permulaan abad ke-17.