RUANGSUJUD.COM - Dikisahkan telah terjadi pengkhianatan kaum Yahudi dari kesepakatan Piagam Madinah. Kelompok Yahudi Madinah yang mestinya menjadi aliansi kaum muslimin malah membelot. Mereka bersekutu dengan kaum kafir Quraisy untuk menyerang Islam, agama yang baru tumbuh ini. 

Rasulullah SAW dan kaum muslimin pun tak gentar. Menghadapi pengkhianatan kaum Yahudi, Rasulullah SAW menyiapkan pasukan untuk menghadapinya. Kisah peperangan ini diabadikan dalam Al Qur'an menjadi salah satu nama surat, yakni Al Ahzab. 

Al Ahzab artinya golongan-golongan. Karena yang memerangi umat Islam pada waktu itu tidak hanya satu kelompok, namun beberapa kelompok sekaligus. Salah satunya adalah Yahudi Bani Quraizhah. 

Saat perang Ahzab terjadi, seharusnya Bani Quraizhah melindungi kaum Muslimin dari serangan musuh. Namun pemimpin Bani Quraizhah berhasil dihasut oleh Bani Nadhir untuk melanggar kesepakatan Piagam Madinah. 

Rasulullah SAW mendapatkan wahyu untuk mengepung Bani Quraizhah. Pasukan muslim pun disiapkan untuk berangkat menuju perkampungan Bani Quraizhah. Mereka berhasil menaklukan kabilah pengkhianat tersebut. 

Di tengah peristiwa ini, ada sebuah kisah menarik yang bisa diambil hikmahnya. Rasulullah SAW menyuruh sekelompok pasukan untuk berangkat terlebih dahulu ke perkampungan Bani Quraizhah. Sebelum berangkat, Rasulullah SAW berpesan agar jangan shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah. 

Ternyata waktu Ashar sudah hampir habis sementara mereka belum sampai di tempat tujuan. Terjadilah perbedaan pendapat diantara dua kelompok sahabat tersebut. Sebagian benar-benar shalat Ashar di Bani Quraizhah walau waktunya telah lewat. Sebagian lainnya shalat Ashar sebelum habis waktunya walau bukan di Bani Quraizhah.

Hal tersebut diadukan kepada Rasulullah SAW. Mendengar hal tersebut, Rasulullah SAW tidak menyalahkan kedua pendapat tersebut. Peristiwa perbedaan pendapat di atas terekam dengan baik dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Ibnu Umar. 

Perbedaan pendapat dalam persoalan keagamaan bukan terjadi akhir-akhir ini saja. Bukan pula mulai terjadi sepeninggal Rasulullah SAW. Perbedaan pandangan bahkan sudah terjadi di saat Rasulullah SAW masih hidup. 

Kisah lainnya adalah mengenai dua orang sahabat yang tak menemukan air saat akan melaksanakan shalat. Karena itu mereka berdua melakukan tayamum. Di tengah perjalanan, mereka ternyata menemukan air. 

Satu orang sahabat memutuskan untuk kembali mengulangi shalatnya setelah berwudhu dengan air tersebut. Satu orang lagi tidak mengulangi wudhu dan shalatnya. Lagi-lagi persoalan ini diadukan kepada Rasulullah SAW. 

Kepada orang yang tidak mengulangi shalatnya, Rasulullah SAW menjawab,"Engkau telah sesuai dengan sunnah". Sementara itu kepada orang yang mengulangi shalatnya, Rasulullah SAW menjawab, "Engkau mendapatkan dua pahala."

Dua kisah di atas menunjukan betapa bijaknya Rasulullah SAW menyikapi perbedaan diantara para sahabatnya. Selama masih dalam koridor ijtihad, Rasulullah tidak menyalahkan satu pendapat. Sikap Rasulullah SAW ini selayaknya diteladani oleh umatnya pada masa kini.