RUANGSUJUD.COM - Dua puluh tahun kemudian, saat Rasulullah SAW bersama pasukannya memasuki Kota Makkah, atau dikenal dengan peristiwa Fathu Makkah, Hindun bersama suaminya Abu Sufyan pucat pasi. Ia tak kuasa menahan takut gegara takbir yang dikumandangkan pasukan kaum muslimin seolah hendak meruntuhkan Gunung Hind yang berdiri kokoh.

Fathu Makkah dilakukan lantaran ada penghianatan yang dilakukan kaum Quaraisy terhadap perjanjian Hudaibiyah. Abu Sufyan beribu kali minta maaf atas pelanggaran tersebut, namun karena sudah berkali-kali melanggar, maka tak seorangpun mau menerima permintaan maafnya.

Karena terdesak, Abu Sufyan akhirnya menyatakan diri masuk Islam. Ia pun mendapatkan ampunan dan perlindungan. Abu Sufyan lalu lari secepat kilat menuju Makkah. Ia mengabarkan kepada penduduk makkah tentang rencana kedatangan Rasulullah dan pasukannya.

Abu Sufyan meminta penduduk makkah untuk tinggal di rumah masing-masing, atau masuk ke rumahnya dan masuk masjid. Hindun sangat marah setelah tahu suaminya masuk Islam. Dengan sombongnya Hindun tetap tidak mau masuk Islam apapun yang terjadi.

Hindun sebetulnya berada dalam ketakutan. Kemana-mana ia harus mengenakan cadar, agar tak dilihat oleh orang-orang yang mengincarnya gegara peristiwa Uhud. Barulah di hari kedua, Hindun besimpuh di hadapan suaminya. Hatinya luluh, dan mengatakan berniat masuk Islam.

Abu Sufyan heran, kenapa tiba-tiba istrinya ingin masuk Islam. Karena itu, ia bertanya pada isterinya. “Mengapa engkau tiba-tiba ingin masuk Islam?”

“Aku kagum dengan kaum muslim. Belum pernah aku saksikan Kota Makkah penuh dengan ribuan orang yang rukuk dan bersujud,” tutur Hindun.

Bersama beberapa kaum wanita lainnya, Hindun menghampiri Rasulullah SAW dan menyatakan diri untuk berbaiat. 

“Wahai Rasululah, segala puji bagi Allah yang telah menurunkan agama yang menjadi pilihan-Nya, agar dapat bermanfaat bagi diriku. Semoga Allah memberi rahmat-Nya padamu, wahai Muhammad. Sesungguhnya aku wanita yang telah beriman kepada Allah dan membenarkan apa yang disampaikan Rasul-Nya.” ujar Hindu.

“Selamat datang bagimu,” ujar Rasulullah kepada Hindun.

Rasulullah SAW melanjutkan seruannya, “demi Allah, sesungguhnya memelihara fitnah itu benar-benar perbuatan yang buruk dan merupakan perbuatan yang sia-sia.”

“Jangan pula kalian berbuat maksiat padaku terhadap perbuatan yang ma’ruf!”

Hindun lantas berkata, “kami duduk di majelis ini bukan untuk berbuat maksiat terhadapmu dalam hal hal ma’ruf.”

Rasulullah SAW kemudian berkata pada Umar bin Khaththab,”Baiat mereka semua, wahai Umar. Dan mintalah ampunan Allah bagi mereka!”

Umar pun membaiat mereka. Termasuk Hindun. Setelah itu, Hindun hidup dalam iman dan islam. Ia rajin shalat malam dan puasa. Hindun amat konsisten menjalankan keislamannya.

Hindun sering menangis dan sedih tiba-tiba. Ia ingat atas apa yang telah ia lakukan. Terlalu lama memusuhi Rasulullah SAW, sehingga tak punya banyak waktu untuk menemaninya berjuang.

Sepeninggal Rasulullah SAW, tepatnya pada masa pemerintahan Umar bin Khathab, Hindun tutup usia. Ia meninggal di atas tempat tidurnya, tepat ketika ayahanda Abu Bakar Ash-Shidiq juga meninggal dunia.

Meski tak lama menghirup nafas keIslaman bersama Rasulullah SAW, namun Hindun meriwayatkan beberapa hadis dari Rasulullah SAW. Hindun juga melahirkan Muawiyah bin Abu Sufyan, seorang negarawan dan politikus ulung. Berkatnya, nafas dakwah Islam menjadi lebih panjang dan menyebar luar hingga ke Konstantinopel, atau Turki. (Tamat)

Penulis: M. Muchlas Rowi (Founder Monday Media Group, Penulis Buku Perang Sebagai Pilihan Terakhir)