RUANGSUJUD.COM - Wanita Quraisy itu digelari "Akilatul Kibdah" (si pemakan hati). Kisahnya bermula saat Perang Badar berkecamuk. Pertempuran pertama yang melibatkan 313 pasukan umat Islam melawan 1000 pasukan Kaum Quraisy.

Meski kalah jumlah, namun semangat jihad yang membara di bulan puasa membuat pasukan Islam berhasil menewaskan tiga pimpinan perang Kaum Quraisy, yaitu Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah dan Walid bin Utbah. Mereka itu adalah keluarga dekat Hindun.

Ketika mendapati saudara-saudaranya tewas mengenaskan, tangis Hindun pecah. Hatinya remuk redam. Seketika itu Hindun berkalung amarah dan menancapkan tekad untuk membalas kematian anggota keluarganya.

Satu tahun berlalu, perang kedua antara umat Islam dan kaum Quraisy kembali pecah. Kali ini berlokasi di Uhud. Sebuah gunung di utara Madinah dengan ketinggian 1077 meter.

11 Syawwal tahun ke-3 selepas hijrah. Ketegangan sudah terjadi sejak pagi buta di kaki gunung Uhud. Debu membubung tinggi memenuhi angkasa diiringi suara genderang yang bertalu-talu. Ditabuh bersahutan oleh perempuan perkasa nan penuh amarah, Hindun.

Dia pergi ke medan perang bersama suaminya Abu Sufyan, salah satu panglima pasukan kaum Quraisy. Bersama 15 orang wanita Makkah lainnya.

Tepuk sorai membahana di sela para wanita yang menari riang. Mengiring kedatangan pasukan Quraisy yang datang lebih dulu dengan kekuatan 3000 pasukan. Tujuh ratus diantaranya berbaju besi, dua ratus penunggang kuda dan sisanya naik unta.

Setelah datang lebih dahulu, pasukan Quraisy langsung menempati posisi strategis di sekitar Uhud. Memaksa 700 pasukan kaum muslimin merangsek ke sebuah ruang di kaki gunung dengan jalan lebar membentang. Lokasi empuk bagi musuh untuk melakukan penyerangan.

Ketika dua pasukan berhadapan dan kian berdekatan, Hindun berdiri di belakang pasukan Makkah dan menabuh genderang perang dengan gegap gempita. Ia ingin pasukan di depannya punya semangat berlebih.

Perang Uhud nyaris dimenangkan pasukan Madinah, namun kemudian berbalik dimenangkan pasukan Makkah. Saat pasukan Madinah silau harta dan berebut ghanimah, pasukan berkuda yang dipimpin Khalid bin Walid putar arah dan membuat pasukan madinah luluh lantah.

Pasukan kaum muslimin nyaris kalah. Banyak yang terluka, termasuk paman Nabi, Hamzah.

Hindun lantas memeriksa para korban di medan perang. Ia mendapati Hamzah paman Rasulullah SAW menjadi korban tusukan tombak seorang budak bernama Wahsyi. 

Hindun pun memperlakukan jenazah Hamzah yang dijuluki Singa Allah tersebut di luar batas kemanusiaan. Itulah lembaran hitam Hindun sebelum meraih cahaya Ilahi. (bersambung)

Penulis: M. Muchlas Rowi, (Founder Monday Media Group, Penulis Buku Perang Sebagai Pilihan Terakhir)