RUANGSUJUD.COM - Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan agama Islam yang sudah eksis sejak masa pra kemerdekaan. Berdasarkan data yang ada, pesantren tertua sudah ada sejak 546 tahun yang lalu yakni Ponpes Al Kahfi Somalangu Kebumen. Ponpes-ponpes yang cukup terkenal seperti Sidogiri Pasuruan dan Buntet Cirebon pun usianya sudah lebih dari dua abad. 

Jauh sebelum pendidikan modern masuk Indonesia pada masa politik etis, pesantren yang dipimpin oleh kiai sudah mendidik santri-santrinya. Tak hanya mengajarkan keilmuan agama, pondok pesantren juga mengajarkan karakter atau akhlak para santrinya. Pondok pesantren juga mengajarkan kesederhanaan dan kehidupan bermasyarakat. Hal ini karena pondok pesantren biasa berbaur dengan masyarakat sekitarnya. 

Seiring dengan masuknya metode pendidikan modern yang dibawa Belanda ke Indonesia, para ulama pun tak tinggal diam menyikapi hal ini. Sebagian mengharamkan mutlak metode tersebut. Namun sebagian lainnya mencoba mengawinkan metode pesantren dan pendidikan modern. Lahirlah pondok modern seperti Thawalib Padang Panjang, Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta dan Gontor Ponorogo. Keberadaan pondok-pondok modern ini memperkaya corak pondok pesantren di Indonesia. 

Peran Pondok Pesantren Dalam Perjuangan Kemerdekaan

Jika Bung Karno punya slogan Jas Merah, Jangan Sekali-kali melupakan sejarah, maka Hidayat Nur Wahid membuat slogan yang mirip yakni Jas Hijau. Jangan Sekali-kali Lupakan Jasa Ulama. Faktanya, jika kita melihat daftar nama pahlawan nasional, di dalamnya banyak diisi para ulama. Misalnya KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asy'ari, Tuanku Imam Bonjol dll. 

Perjuangan ulama dan pesantren pun tak perlu diragukan lagi. Kita bisa melihat Film Sang Kiai yang menceritakan kiprah KH. Hasyim Asy'ari. Selain memimpin pesantren, beliau pun mencetuskan Resolusi Jihad guna menghadapi upaya kolonial merebut kembali Indonesia setelah proklamasi. Adanya resolusi tersebut membuktikan bahwa antara keIslaman dan kebangsaan sudah tak perlu dipertentangkan. Ungkapan KH. Hasyim Asy'ari yang terkenal adalah Hubbu; Wathan Minal Iman, Cinta Tanah Air sebagian dari iman. 

Pasca kemerdekaan pun pondok pesantren masih terus berperan mencetak kader-kader bangsa. Misalnya adalah Presiden ke-4 RI Gus Dur. Para pimpinan di lembaga legislatif juga banyak dari kelompok santri seperti Muhaimin Iskandar dan Hidayat Nur Wahid. Santri tidak lagi termarjinalkan dalam perpolitikan Indonesia. Melainkan bisa berkiprah memberi manfaat bagi umat dan bangsa. 

Oleh karena itu kita gembira dengan disahkannya UU Pesantren pada tahun 2019 dan Perpres nomor 82 tahun 2021 mengenai dana abadi pesantren. Pemerintah juga telah mengakui kiprah santri melalui Hari Santri Nasional yang diperingati pada 22 Oktober setiap tahunnya.