RUANGSUJUD.COM - Kisah bermula dari sosok Walid bin ‘Uqbah yang diminta oleh Rasulullah SAW memungut zakat dari Bani Musthaliq. Sebuah kabilah yang baru saja takluk di hadapan kaum muslimin. Bani Musthaliq di bawah kepemimpinan Haris bin Dhirar bersedia untuk masuk Islam. Sebagai bukti kesetiaannya kepada agama barunya, maka Haris diminta untuk membayar zakat.

Haris berhasil mengumpulkan zakat dari kaumnya. Dia menunggu utusan Rasulullah SAW datang untuk mengambilnya. Sayangnya utusan tersebut tak kunjung datang. Haris gelisah. Dia takut Allah SWT dan Rasul Nya marah, sehingga tidak mau datang menjemput zakatnya. Tatkala keresahan yang dirasakan semakin memuncak, Haris memutuskan untuk datang menyerahkan sendiri zakat itu bersama rombongan. Mereka pun berangkat menemui Rasulullah SAW.

Tandusnya padang pasir yang menghampar, teriknya sinar matahari yang membakar tak mengurangi niat mereka untuk membuktikan ketaatannya. Langkah demi langkah mereka jalani demi menemui tokoh besar Sang Pembawa Risalah Rasulullah SAW. Namun bertepatan dengan perjalanan Haris, Rasulullah SAW mengutus Walid bin ‘Uqbah untuk mendatangi Bani Musthaliq.

Di tengah perjalanan, Walid melihat rombongan Haris yang sedang berjalan ke arahnya. Timbul prasangka dalam benaknya. Dia berpikir bahwa Haris membatalkan niat baiknya untuk masuk Islam. Dalam bayangannya, rombongan Haris datang untuk membalas dendam kepada Rasulullah SAW. ‘Uqbah gentar, hatinya diliputi ketakutan. Tanpa melakukan tabayyun, dia segera kembali kepada Rasulullah SAW.

Melihat ‘Uqbah yang kembali, Rasulullah SAW terkejut. Beliau bertanya sebab Walid kembali dari misi yang dia tugaskan.  Walid kemudian menceritakan rombongan Haris yang dilihatnya di perjalanan. Walid  melaporkan bahwa Haris dan pasukannya tidak mau membayar zakat dan mengancam untuk membunuhnya. Mendengar cerita Walid, Nabi Muhammad SAW mempercayainya. Rasulullah SAW marah dan mengirim pasukan untuk menghadapi Haris.

Rombongan Haris sudah hampir mencapai gerbang Kota Madinah. Pasukan Rasulullah SAW dengan segera mengepung mereka. Interogasi pun dimulai. Seorang sahabat bertanya,”Wahai Haris, Apakah benar Engkau menolak membayar zakat dan mau membalas dendan?”. Haris menjawab, “Tidak! Demi Allah! Kedatangan kami ke sini untuk mengantarkan zakat. Karena kami tunggu yang menjemput zakat tak kunjung datang. Kami mengira Allah dan Rasul Nya marah kepada kami,” ujar Haris.

Kemudian turunlah QS. Al Hujurat: 6 yang mendukung pernyataan Haris.

Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.

Ayat tersebut mengkritik sikap Walid bin Uqbah yang membuat hoaks. Hoaks yang dibuat Walid  hampir saja membuat orang yang tak bersalah celaka, yakni Haris bin Dhirar. Rasulullah SAW pun terkecoh dengan pernyataan Walid. Untung saja Allah SWT. Tidak tinggal diam. Turunlah ayat tersebut untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya.

Era Post Truth dan Gejalanya

Berita bohong atau hoaks sudah ada dari masa ke masa. Namun seiring dengan perkembangan kognitif manusia, penyebaran hoaks semakin massif. Hari ini kita sudah memasuki era post truth, dimana kebohongan bisa menyamar sebagai kebenaran. Banyak berita bohong yang disajikan seolah-olah kebenaran.

Beberapa gejala masyarakat yang terjadi di era post truth antara lain:

  1. Kebanyakan tidak mencari kebenaran, namun mencari pembenaran berupa afirmasi, konfirmasi dan dukungan terhadap yang diyakini meskipun itu suatu kebohongan.
  2. Kebohongan direpetisi, disebarkan secara berulang-ulang sehingga masyarakat mempercayainya sebagai kebenaran.
  3. Dramatisasi lebih penting dari substansi pesan itu sendiri. Ruang percakapan digital dipenuhi oleh berisiknya percakapan. Banyak yang tidak bisa membedakan mana kritik dan mana nyinyir.
  4. Hoaks yang semakin marak, baik berupa pemutarbalikan informasi maupun disinformasi dan misinformasi. Hoaks tak lagi sepenuhnya berita bohong. Namun bisa saja mencampur berita benar dan bohong.

Era post truth diperparah dengan kondisi masyarakat yang masih belum melek literasi digital. Berdasarkan survei yang dilaksanakan oleh Kominfo dan Katadata pada tahun 2020, 60% orang Indonesia terpapar hoaks saat mengakses internet. Kemampuan mengenali hoaks pada masyarakat Indonesia masih rendah (21-36%). Hoaks banyak ditemukan dalam isu politik, kesehatan dan agama. Angka literasi digital nasional masih di bawah nilai baik, yakni 3,47.

Solusi Al Qur’an Menghadapi Era Post Truth

Al Qur’an memberikan solusi bagi era post truth. Pertama adalah berkata benar. Dalam QS. Al Ahzab: 70-71 Allah SWT berfirman:

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.Niscaya Dia (Allah) akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia menang dengan kemenangan yang besar.

Ada balasan yang besar bagi orang yang berkata benar. Yakni Allah SWT akan memperbaiki amalan kita dan mengampuni dosa kita. Allah SWT juga menjanjikan kemenangan besar bagi yang berkata benar. Dalam konteks Era Post Truth, berkata benar bisa berarti menyampaikan informasi yang benar. Baik yang berasal dari diri sendiri maupun yang didapat dari orang lain.

Kedua, tabayyun atau verifikasi informasi. Ada nasehat, saring sebelum sharing. Artinya adalah kita perlu memilah terlebih dahulu informasi sebelum membaginya dengan orang lain. Kita juga perlu memilah mana informasi yang benar dan mana yang salah. Dalilnya QS. Al Hujurat: 6 yang penulis telah uraikan di atas. Budaya tabayyun akan membuat kita terhindar dari jebakan berita hoaks di era post truth. Tabayyun juga bisa membuat orang lain terhindar dari penyebaran berita hoaks. 

Penulis: M. Muchlas Rowi (Founder Monday Media Group)