RUANGSUJUD.COM - Pada hakikatnya, pergantian tahun dan bulan adalah fenomena alam semata. Manusia lah yang memberinya makna. Kekaisaran Romawi menjadikan periode revolusi bumi mengelilingi matahari sebagai acuan pergantian tahun. Sementara itu, umat Islam menjadikan peredaran bulan sebagai perhitungan waktu. 

Muncul istilah kalender barat dan kalender Islam. Sebenarnya baik matahari dan bulan keduanya sama-sama ciptaan Allah SWT. Maka baik kalender barat maupun Islam sama-sama sah digunakan untuk mempermudah kehidupan kita sehari-hari. 

Dalam QS. Yunus: 5 Allah SWT berfirman: Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menetapkan tempat-tempat orbitnya, agar kamu mengetahui bilangan tahun, dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan demikian itu melainkan dengan benar. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui.

Momentum pergantian tahun dapat kita manfaatkan untuk muhasabah yang artinya evaluasi atau introspeksi diri. Tidak ada keharusan untuk muhasabah di setiap pergantian tahun. Muhasabah boleh dilakukan setiap bulan, boleh setiap hari, bahkan setiap waktu. Hanya sekali lagi untuk mempermudah, tak ada salahnya pergantian tahun dijadikan momen muhasabah. 

Khalifah Umar bin Khattab pernah mengatakan: hisablah dirimu sebelum nanti dihisab di akhirat. Antara Muhasabah dengan hisab masih satu akar kata, dan sama-sama mempunyai unsur perhitungan. Bedanya hisab adalah saat kita dievaluasi di akhirat, sedangkan muhasabah kita mengevaluasi diri kita sendiri. 

Kita perlu melakukan muhasabah agar kita mengetahui apa yang salah dari diri kita. Setelah muhasabah, kita bisa mengubah diri kita menjadi lebih baik. Tanpa muhasabah, boleh jadi kita merasa sudah baik. Tanpa muhasabah, boleh jadi banyak kesalahan yang tak kita sadari. 

Dalam QS. Al Hasyr: 18, Allah SWT berfirman: Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

Para mufassir menafsirkan ayat ini dengan makna hendaknya kita memperhatikan apa yang kita lakukan di dunia untuk bekal kita di akhirat. Namun secara letterlijk kita juga bisa mengartikan ayat ini dengan hendaknya kita memperhatikan apa yang telah kita lakukan sebagai referensi bagi apa yang akan selanjutnya kita lakukan. Makna ini cocok dengan pembahasan kita mengenai muhasabah. 

Setelah muhasabah, langkah selanjutnya adalah menetapkan agenda perubahan yang sering disebut dengan resolusi. Sering kita lihat orang-orang menetapkan resolusinya di awal tahun. Misalnya tahun 2022 saya ingin menikah. Tahun 2022 saya ingin punya rumah. Itulah contoh dari resolusi. 

Yang sangat disayangkan, resolusi biasanya tidak terwujud. Hanya menjadi rencana awal tahun. Beberapa bulan kemudian dilupakan. Maka tidak ada gunanya membuat resolusi di awal tahun. Akhirnya mayoritas kita tidak mengalami perubahan dari tahun ke tahun. Kita tidak menjadi lebih baik. Hidup kita begini-begini saja. 

Apa yang salah? Yang salah adalah karena kita hanya menetapkan resolusi namun tidak mengubah kebiasaan. Padahal yang menentukan kesuksesan kita adalah kebiasaan kita. Kenapa orang bisa menjadi alim? Karena dia mempunyai kebiasaan orang alim. Kenapa orang hidupnya miskin? Boleh jadi karena dia mempunyai kebiasaan orang miskin. 

Maka yang lebih penting dari keinginan untuk berubah menjadi lebih baik adalah mengubah kebiasaan. Kebiasaan adalah sesuatu yang otomatis kita lakukan dan sudah berada di alam sadar. Dalam Islam hal ini disebut akhlak. Hal ini senada dengan perkataan Imam Al Ghazali bahwa akhlak adalah: Sifat yangtertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan mudah dilakukan tanpa perlu kepada pemikiran dan pertimbangan. 

Maka yang harus kita lakukan adalah mengubah kebiasaan kita dari kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik. Ini tidaklah mudah. Namun bisa dilakukan dengan cara-cara yang tidak cukup waktunya untuk dibahas dalam tulisan ini. Namun pada intinya, mari kita memanfaatkan momentum tahun baru ini untuk muhasabah dan selanjutnya ditindaklanjuti dengan upaya mengubah kebiasaan kita. Karena kebiasaanlah yang menentukan nasib kita. 

Tentu ini sifatnya tidak wajib. Dalam arti momentum tahun baru hanya sebagai alat untuk mempermudah perhitungan waktu saja. Adapun muhasabah dan mengubah diri kita sendiri ini hal yang wajib, jika kita ingin hidup kita lebih baik.