RUANGSUJUD.COM - Cap terorisme masyarakat dunia terhadap Islam tak pernah usai. Tidak hanya di negara barat, di asia, Islam masih dianggap tidak ramah. Hal ini terjadi akibat pemberitaan media yang mem-framing bahwa Islam identik dengan kekerasan dan aksi terorisme.

Misalnya di Korea Selatan, sebagian warga masih asing dengan agama Islam, sehingga mereka hanya mendengar Islam dari media dan menelan bulat-bulat apa yang disodorkan media. 

Kelompok muslim yang tinggal di daerah Daegu mengalami kerugian akibat framing Islam di media. Pasalnya, kelompok muslim yang didominasi mahasiswa ini berencana akan membangun masjid di tengah pemukiman penduduk. Namun, pembangunan ini ditolak keras oleh warga lokal.

Perlakuan diskriminatif warga lokal semakin menjadi-jadi saat pembangunan dimulai. Pagar rumah mereka dihiasi spanduk penolakan hingga cercaan yang menyerang pribadi muslim. Sebuah video yang tersebar di media sosial merekam aksi pengusiran mereka dengan teriakan,

"Pulang sana ke negara asalmu! Sekarang juga! Pergi! Pergi sana! Pulang sana ke negaramu! Muslim telah membunuh orang dengan brutal! Memenggal kepala orang!"

Muaz Razaq, mahasiswa S3 asal Pakistan mengaku sering diteriaki "teroris" saat berjalan sendirian. Ia merasa teriakan itu ucapan paling kasar yang pernah ia dengar. Akhirnya, kaum muslim disana selalu merasa takut dan panik menghadapi warga lokal, kena mental mereka.

Padahal sebelum adanya pembangunan masjid, kehidupan kaum muslim dan warga lokal tenteram saja. Tetapi semakin banyak muslim yang berdatangan ke Daegu untuk beribadah, salat jumat, pengajian dsb, semakin gencar penolakan dari warlok.

Kelompok Muslim membeli rumah di Daegu pada tahun 2014. Rumah tersebut dipergunakan untuk rumah tinggal dan tempat ibadah. Suara adzan, ngaji, dan dzikir sayup-sayup selalu terdengar bergemuruh disana. Dikarenakan semakin hari jamaah terus bertambah, rumah tersebut diubah menjadi masjid.

Warlok merasa hidup di dalam dilema dan bingung jika harus menerima budaya baru. Mereka khawatir akan kehilangan kebiasaan dan keseharian yang biasa mereka lakukan. Dengan kata lain, mereka takut kedaulatannya terancam dan dijajah dengan aktivitas kaum muslim.

Yang menjadi dasar penolakan terbesar mereka terhadap kelompok muslim di Daegu adalah pembangunan masjid. Warlok berpandangan kalau di tengah pemukiman seharusnya tidak ada gedung serbaguna. Sebab, nantinya akan mengganggu aktivitas masyarakat.

Konflik pembangunan masjid ini bermula di akhir tahun 2020. Warlok berulang kali mengadakan protes dan unjuk rasa, jalur mediasi tidak lagi bisa menjadi solusi konflik. Sampai akhirnya pengadilan mengeluarkan hasil keputusan sementara, pembangunan masjid ditunda. 

Ternyata tak cuman di Daegu, konflik pembangunan masjid juga terjadi di kota Daejeon, Provinsi Chungcheong. Sebelum Muslim dan warlok hidup nyaman berdampingan seperti sekarang, pada awalnya mereka juga berurusan dengan konflik.  

Warlok Daejeon memang sering mengeluhkan aktivitas muslim, apalagi saat adzan berkumandang, mereka merasa terganggu dan kaum muslim pun mengakuinya. Selanjutnya, imam Daejeon Islamic Center  memberi pemahaman bagaimana ibadah muslim, dia meminta agar warlok menutup jendela setiap waktu sholat datang. 

Bedanya, di Kota Daejeon ini, warlok tidak termakan framing negatif terorisme. Sehingga untuk penyelesaian konflik, cukup lancar dengan diskusi. Warlok bisa lebih mengerti perbedaan budaya dan karakteristik ibadah muslim.

Salah satu penyulut konflik adalah prasangka. Keengganan mencari tahu lebih dalam, membuat konflik semakin menjadi-jadi adanya. Inilah fenomena yang terjadi di Daegu, Korsel. Warga lokal korea terlalu cepat mempercayai prasangka bahwa muslim adalah teroris, padahal sebenarnya muslim tidak seperti yang mereka sangka.

Sumber: BBC News Indonesia