RUANGSUJUD.COM - ILMU PENGETAHUAN sejatinya tak memiliki jenis kelamin. Karena ibarat lautan luas, ia tak pernah surut dan siapapun bisa menyelaminya. Baik laki-laki maupun perempuan. Sayangnya, sejumlah fakta menunjukkan, sains belum begitu ramah terhadap perempuan.

Sebagai saintis, tak ada yang kurang dari Marie Curie. Bersama Henri Becquerel, ia pernah diganjar hadiah Nobel Fisika. Hanya saja, perempuan pertama peraih doktor sains ini pernah ditolak menjadi bagian sebuah akademi ilmu pengetahuan ternama di Perancis.

Tak cuma di Perancis dan daratan Eropa, persepsi serupa juga ada di dunia Islam, termasuk Indonesia. Sebuah penelitian menyimpulkan, tingkat kepercayaan diri anak perempuan lebih rendah dibandingkan anak laki-laki ketika mengejar pekerjaan di bidang sains. Walaupun nilai mereka selama di sekolah relatif bagus.

Padahal, Islam sejak lama sudah menaruh perhatian besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Rasulullah bahkan memberi peluang dan kesempatan yang sama bagi umatnya, baik laki-laki maupun perempuan, dalam mencari ilmu pengetahuan. Dalam hal belajar, beliau tidak membeda-bedakan jenis kelamin.

Di dalam kehidupan sehari-hari, Rasulullah memang sangat memperhatikan pendidikan kaum perempuan. Nabi Saw. sangat revolusioner dalam memperjuangkan hak-hak perempuan tentang pendidikan, bila dibandingkan dengan kaum jahiliah dalam masa sebelumnya.

Perempuan Muslimah di zaman Nabi sangat menyadari benar perintah atau kewajiban belajar. Ada beberapa perempuan, misalnya, mengajukan permintaan kepada beliau. "Ya, Rasulullah, hendaknya kami diberi waktu satu hari khusus untuk mengkaji ilmu-ilmu darimu." Beliau mengiyakan permintaan kaum perempuan tersebut.

Rasulullah memberi akses yang sama kepada kaum perempuan untuk mendapatkan pendidikan dan ilmu pengetahuan. Rasulullah tak pernah melarang jika ada sahabat perempuan yang ingin mengaji dan belajar bersama beliau.

Suatu hari seorang ulama golongan tabi’in, al-Qasim bin Muhammad berkata kepada muridnya, Imam az-Zuhri,”Kulihat engkau sangat mencintai ilmu, wadah itu bernama Amrah binti Abdurrahman. Dialah murid terbaik ibunda Aisyah.”

Imam Zuhri heran dengan perkataan gurunya itu, lantas ia pun mendatangi majelis ilmu perempuan kinasih. Setelah lama menyimak, ia pun berkata, “Saya mendapat ilmu Amrah binti Abdurrahman seperti lautan luas yang tak pernah surut.”

Sederet ilmuwan muslim perempuan pasca Amrah di kemudian hari pun sebetulnya lahir. Mulai dari Sutayta al-Mahamali, Mariam Al- Ijilia, Rufaida al-Aslamia, Prof. Bina Shaneen Siddiqui, prof. Nasreen Gaddar, dan Tri Mumpuni.

Sosok terakhir bahkan menarik perhatian banyak pihak. Mulai dari Presiden Jokowi, hingga Presiden Amerika Serikat ke-44 Barack Obama. Ya, tak sedikit memang ilmuwan perempuan muslim yang turut mengembangkan pengetahuan kehidupan masyarakat.

Sosok Tri Mumpuni dikenal sangat sederhana. Tapi soal prestasi ia tak tanggung-tanggung. Seluruh dunia mengakuinya. Paling tidak itu dibuktikan dengan dicantumkannya sebagai ilmuwan muslim yang berhasil mengubah dunia. Dia termasuk 22 Most Influential Muslims yang diterbitkan Royal islamic Strategic Studies Centre baru-baru ini.

Itu berkat kesabarannya berjuang mengembangkan kemandirian masyarakat di kawasan terpencil melalui pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH).

Pertama kali, Tri membangun PLTMH pada tahun 1997 di Dusun Palanggaran dan Cicemet, Gunung Halimun. Untuk mencapai tempat itu, kita harus berjalan kaki. Atau menggunakan sepeda motor yang dimodifikasi terlebih dahulu rodanya. Saking terjal dan licinnya jalan yang ada.

Ketika datang pertama kali, dusun ini gelap gulita. Warga antusias, tapi tak ada bantuan dari siapa pun ketika itu. Masyarakat juga susah diminta iuran. Karena uang hasil dari jasa memetik teh hanya cukup untuk beli keperluan dapur. Namun selang berjalannya waktu, uang iuran pun terkumpul, hebatnya ada Rp 23 juta terkumpul. Puni, lantas memperluas pendirian PLTMH ke dusun-dusun lainnya. Tidak saja di Sukabumi, tapi juga Bogor.

Kisah Puni sangat inspiratif, sayangnya tak cukup untuk mengubah persepsi dan antusiasme kaum perempuan untuk mempelajari sains. 

Melihat persoalan itu, Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) pun mempelajari mengapa keberhasilan akademisi anak perempuan tidak menjelma menjadi keuntungan ekonomi dan pekerjaan. Jawabannya, pilihan karier menjelaskan mengapa perempuan di negara-negara maju punya penghasilan rata-rata 15% lebih sedikit dari pria.

Andreas Schleicher adalah seorang peneliti OECD, seperti ditulis BBC News, ia mengatakan bahwa ‘perbedaan gender dalam kepercayaan diri’ menjadi persoalan kunci. Meskipun perempuan mungkin mencapai hasil akademik lebih baik. Tapi masih ada keengganan untuk memilih berkarir di jalur sains.

Perlu upaya tak biasa mengubah persepsi kaum perempuan terhadap karir dalam dunia sains. Dan itu, harus dibangun sejak dini. Sejak anak perempuan masih dalam buaian sang ibu, sebagai madrasatul ula

Penulis: M. Muchlas Rowi, Founder Monday Media Group dan Penulis Buku Perang Sebagai Jalan Terakhir