RUANGSUJUD.COM - Syahwat berasal dari bahasa arab yang berarti menyukai dan menyenangkan. Secara istilah berarti kecenderungan jiwa terhadap apa yang dikehendakinya. Tapi yang paling umum syahwat diartikan hawa nafsu. 

Konotasi syahwat selalu negatif karena sering mengarahkan jiwa manusia pada hal diluar batasnya. Maka dari itu, agar syahwat tetap ada di dalam batas, harus dijinakkan dan dikendalikan. Sifat dasar syahwat adalah liar dan cenderung menuntut pemuasan sementara tanpa peduli bagaimana dampaknya.

Al-Quran menyebut syahwat tepatnya di dalam Surah An-Naml ayat 55 yang menceritakan kisah kaum Nabi Luth yang terkenal dengan penyakit homoseks dan sodomi. Syekh Muhammad Ali As-sabuni menjelaskan dalam kitabnya safwat tafasir, An-Naml ayat 55 adalah bentuk cacian Allah kepada kaum Luth, “Wahai kaum Luth yang sangat bodoh mengapa kamu lebih memiliki syahwat kepada laki-laki dan meninggalkan perempuan."

Tapi kita tidak dapat memungkiri bahwa syahwat ini adalah fitrah kebutuhan manusia, seperti butuhnya manusia kepada makan dan minum. Dan manusiawi saja jika syahwat menggebu-gebu, bukan kategori dosa dan kesalahan.

Syahwat akan menjadi dosa dan kesalahan saat tidak bisa dikendalikan, terlalu berlebihan, sehingga melanggar batas-batas yang Allah buat. Seperti halnya yang terjadi pada kaum Nabi Luth. Kaum Nabi Luth menggunakan cinta mereka bukan pada tempat semestinya. Dan inilah yang disebut penyakit syahwat.

Mencintai dan menyukai seseorang sebenarnya sah-sah saja. Namun, akan berubah hukumnya ketika cinta itu disertai syahwat yang membabi buta, syahwat yang mengarah pada langkah-langkah setan, kemunkaran dan kehinaan.

Syekh As-sabuni menafsirkan kalimat syahwat pada ayat 55 Surah An-Naml bahwa manusia senang kepada kemunkaran; mereka mengikuti setan sehingga mereka berpaling dari kebenaran kepada kebatilan, sehingga mereka menjadi fasik dan inkar.

Syahwat tidak terbatas pada orientasi seksual saja, lebih luas dari itu, syahwat adalah hawa nafsu terhadap segala yang berkaitan dengan dunia, harta, anak-anak, jabatan, dsb. Ujian terbesar bagi seorang manusia adalah syahwatnya juga kecintaan kepada hal-hal haram.

Manusia bisa jadi hina saat dirinya dikuasai syahwat. Dirinya akan selalu tertarik ke dalam lubang keburukan dan kemungkaran, ia tidak sadar sudah tereperosok dalam perkara yang rusak. Dorongan syahwat untuk bermaksiat selanjutnya akan membekas dalam hati dan bayang-bayangnya selalu menghantui.

Syahwat merupakan perangkap yang mematikan, yang bisa membuat manusia terkunci dan terbelenggu dalam lingkaran kemaksiatan. Sampai ia merasa kemaksiatan bukan lagi sebuah kesalahan, akan tetapi kenikmatan. Lingkaran kemaksiatan akan membuat manusia merasakan semua perkara maksiat, dari maksiat yang kecil menuju maksiat yang lebih besar. Demikianlah strategi setan merekrut manusia agar menjadi temannya.

Syahwat akan naik levelnya menjadi penyakit saat sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Penyakit syahwat sama halnya seperti penyakit kanker yang lama kelamaan akan mematikan penderitanya. Bukan mati secara fisik, tapi secara batin alias hatinya yang mati, imannya yang mati.

Syekh Muhammad bin Abdullah Ma'yuf membocorkan resep obat penyakit syahwat ini. Kita yang merasa sudah terserang penyakit ini, segeralah meminum obatnya, sebelum stadiumnya naik dan iman kita direnggut, naudzubillahi min dzalik.

Dan inilah obat penyakit syahwat: 

1. Takut kepada Allah Swt

Perasaan takut ini meski sering disepelekan tapi dampaknya sangat besar. Dengan perasaan takut, otomatis kita akan terus berdzikir dan mengingat apa dampak yang akan terjadi setelah mengikuti keburukan syahwat.

2. Selalu merasa diawasi Allah (Muroqobah)

Obat yang satu ini akan menimbulkan rasa was-was dan hati-hati dalam berbuat. Sebagai manusia yang beriman, harusnya bisa sadar dan yakin bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui apa yang dilakukan hamba-Nya sembunyi-sembunyi atau terang-terangan.

3. Istiqomah dalam beragama

Agama adalah sebaik-baik pagar syahwat. Sebab di dalam agama dijelaskan secara jelas apa saja rambu-rambu yang tidak boleh ditabrak syahwat. Dijelaskan pula bagaimana caranya menjinakkan syahwat dan bagaimana solusinya jika sudah terperosok dalam keburukan syahwat.

4. Membaca Al-Quran

Sudah banyak ayat dan hadits yang menerangkan bahwa Al-Quran berfungsi sebagai obat (Asy-Syifa). Saat gundah, saat sedih, saat sakit datanglah pada Al-Quran. Dengan kemuliaannya, Al-Quran bisa mengobati segala penyakit manusia baik yang fisik maupun batin. Apalagi penyakit syahwat, Al-Quran akan mampu meredam api syahwat.