RUANGSUJUD.COM - Peristiwa 11 September 2001 merupakan tragedi kemanusiaan yang menyita perhatian dunia. Bagaimana tidak, berdasarkan investigasi yang dilakukan tim khusus untuk kasus 9/11, sebanyak 3000 jiwa harus kehilangan nyawa dalam insiden tersebut. 

Peristiwa pembajakan 4 pesawat oleh kelompok Al Qaeda yang dipimpin Osama bin Laden tersebut membuat umat Islam di Amerika Serikat mengalami peningkatan diskriminasi. Stigma dan kecurigaan terhadap muslim keturunan Arab di Amerika Serikat mengalami peningkatan. Baik dilakukan oleh masyarakatnya maupun pemerintah setempat. 

Alasan mereka mencurigai muslim karena alasan potensi terorisme. Sebuah alasan yang berlebihan sebenarnya. Persoalan rasisme memang menjadi aib bagi pemerintah dan sebagian warga Amerika Serikat sampai hari ini. Peristiwa black lives matter menjadi contoh adanya diskriminasi yang nyata terhadao masyarakat non kulit putih. 

Sebelum terjadi peristiwa 9/11 pun umat Islam imigran Arab sudah mengalami stigma. Hal ini diperparah oleh peristiwa 9/11. Kisah nyata dialami oleh seorang muslim warga Amerika Serikat bernama Shahana Hanif. Dua minggu pasca tragedi, masih kuat dalam ingatannya bahwa seseorang memanggil dia dengan sebutan teroris. 

Hanif, yang kala itu masih berusia 10 tahun sedang berjalan ke masjid di sekitar rumah mereka di Brooklyn. Mereka ingin menunaikan sholat. Namun dalam perjalanan menuju masjid, sebuah mobil tiba-tiba menepi dan menghampiri Hanif serta adiknya. Kaca di bangku pengemudi diturunkan. Dari dalam, sang sopir meludah lalu meneriaki Hanif dan adiknya "teroris".

Kala itu, Hanif dan adiknya seketika disergap rasa takut. Mereka membatalkan perjalanan ke masjid dan berlari pulang. Menjelang 20 tahun peringatan serangan gedung WTC, Hanif masih dapat merasakan kengerian sekaligus kebingunannya kala itu.

Dia heran mengapa ada orang-orang yang memandangnya sebagai ancaman. Padahal pada 2001, ia hanya anak berusia 10 tahun.

"Itu (teroris) bukan kata yang bagus dan baik. Artinya kekerasan, artinya berbahaya. Itu dimaksudkan mengejutkan siapa pun yang menerimanya," ucap Hanif.

Hanif tak seorang diri. Banyak pemuda Muslim di Amerika yang tumbuh di bawah bayang-bayang serangan gedung WTC atau dikenal dengan istilah "9/11". Tak sedikit yang menghadapi sikap permusuhan, dicurigai, dan diawasi.

Sebuah jajak pendapat oleh Associated Press-NORC Center for Public Affairs Research yang dilakukan menjelang peringatan 20 tahun tragedi 9/11 menemukan 53 persen orang Amerika memiliki pandangan tak baik terhadap Islam. Sementara 42 persen lainnya berpandangan sebaliknya.

Ketidakpercayaan dan kecurigaan terhadap Muslim tidak dimulai dengan 9/11. Namun serangan itu secara dramatis meningkatkan sensitivitas tersebut. Ilmuwan politik di Christopher Newport University, Youssef Chouhoud, mengatakan karena terbiasa diabaikan atau ditargetkan maka komunitas Muslim yang luas dan beragam di AS menjadi sorotan.